JABAR EKSPRES – Banjir masih menggenangi Jalan Raya Dayeuhkolot, tepatnya di depan Pasar hingga kawasan Masjid Agung, Senin (13/4/2026). Genangan terjadi akibat luapan Sungai Citarum setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut sejak Jumat (10/4).
Ketinggian air di ruas jalan utama penghubung Dayeuhkolot–Kota Bandung itu berkisar antara 30 hingga 60 sentimeter. Kondisi tersebut menyebabkan arus lalu lintas tersendat dan kendaraan harus melaju secara bergantian.
Berdasarkan pantauan di lapangan, sejumlah pengendara tampak ragu melintas di tengah genangan. Banyak di antaranya memilih berputar balik karena khawatir kendaraan mogok, terutama pengendara sepeda motor.
Baca Juga:Kang Eful Dorong Ketahanan Pangan untuk Pemenuhan Gizi Keluarga Bergerak di Tengah Tantangan Global, Armada Kapal Pertamina Topang Distribusi Energi
Meski demikian, sebagian pengendara tetap nekat menerobos banjir. Kendaraan roda empat seperti truk dan mobil masih terlihat memaksakan diri melintas, sementara pengendara roda dua lebih banyak berhenti di tepi jalan atau mencari jalur alternatif.
Rahmat, salah satu pengendara motor asal Bandung, mengaku terpaksa tetap melintas karena tuntutan pekerjaan.
“Kalau enggak lewat sini, harus muter jauh. Saya juga khawatir motor mogok, tapi mau gimana lagi, harus kerja,” ujarnya.
Ia menambahkan, kondisi air yang cukup tinggi membuatnya harus ekstra hati-hati saat melintasi genangan.
Rahmat juga sempat melihat beberapa pengendara lain mengalami mogok di tengah jalan akibat nekat menerobos banjir.
Hal serupa diungkapkan Dedi (34), pengendara lain yang memilih memutar balik. Ia menilai risiko melintas terlalu besar. Dedi mengatakan dirinya lebih memilih mencari jalur lain meski harus menempuh waktu lebih lama.
“Saya cari jalan lain aja, kalau melintas kesini takut mogok motor,” ungkapnya.
Baca Juga:Kuliah S2 Sambil Kerja, MM UM Bandung Sasar Alumni Aktif dengan Skema BeasiswaProdusen AMDK Lokal TGM99 Tawarkan Kemasan Lengkap dan Peluang Maklon
Di sisi lain, warga yang berjalan kaki pun tetap beraktivitas meski harus menembus genangan air. Siti (41), seorang pekerja harian, mengatakan dirinya tidak memiliki pilihan selain berjalan kaki melewati banjir demi sampai ke tempat kerja.
“Setiap hari harus lewat sini. Walaupun airnya tinggi, ya tetap jalan saja. Yang penting bisa sampai kerja,” kata Siti.
Ia mengaku kondisi tersebut sudah sering terjadi ketika hujan deras mengguyur wilayah Bandung selatan.
Menurutnya, banjir yang tak kunjung surut sangat mengganggu aktivitas warga, terutama bagi mereka yang bergantung pada mobilitas harian.
