JABAR EKSPRES – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kian memprihatinkan, bahkan pada Selasa sore, rupiah ditutup melemah menjadi Rp17.105 per dolar AS.
Kondisi itu memicu kekhawatiran publik terhadap fiskal Indonesia. Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto turut merespons turunnya kurs rupiah tersebut.
Menurutnya, pelemahan tidak hanya menimpa rupiah, tetapi juga mata uang di negara-negara lainnya. Hal itu disampaikan Airlangga saat diwawancarai wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa.
Baca Juga:Parkir Liar Rp50 Ribu di Stadion Pakansari Viral, Pemkab Bogor Gerak Cepat Bentuk SatgasHarga Plastik Naik Bikin UMKM Repot, Begini Respons Pemerintah
“Itu kan bukan hanya rupiah, berbagai currency (mata uang) lain juga demikian,” ujarnya, dikutip Rabu (8/4/2026).
Diketahui, Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan hari Selasa melemah 70 poin atau 0,41 persen menjadi Rp17.105 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp16.980 per dolar AS.
Di sisi lain, Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan ini dipengaruhi potensi eskalasi di Timur Tengah antara AS dengan Iran.
“Investor bersiap menghadapi potensi eskalasi di Timur Tengah menjelang tenggat waktu yang ditetapkan Presiden AS Donald Trump bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz,” ucapnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa.
Gangguan lalu lintas kapal tanker dalam beberapa pekan terakhir itu, lanjut dia, telah memperketat ekspektasi pasokan dan meningkatkan premi risiko di seluruh pasar minyak.
Iran menolak proposal dari AS untuk melakukan gencatan senjata selama 45 hari dan pembukaan Selat Hormuz secara bertahap, bersamaan dengan negosiasi lebih luas tentang pencabutan sanksi dan rekonstruksi.
Adapun seruan Iran ialah menyerukan penghentian permusuhan secara permanen, jaminan yang mengikat terhadap serangan di masa mendatang, pencabutan sanksi, dan kompensasi atas kerusakan.
Baca Juga:Harga BBM Nonsubsidi Bakal Naik, Warga Bersiap!DPR Dorong Penyesuaian Harga BBM: APBN Saat Ini Tertekan
“Trump menegaskan kembali bahwa tenggat waktu hari Selasa itu tegas dan memperingatkan bahwa kegagalan untuk mematuhi dapat memicu serangan AS terhadap infrastruktur Iran, termasuk pembangkit listrik dan jembatan. Ia juga mengatakan Iran dapat disingkirkan dengan cepat, menggarisbawahi meningkatnya risiko eskalasi yang lebih luas,” kata Ibrahim.
Konfrontasi ini dinilai telah mengganggu aliran energi global dan mendorong harga minyak lebih tinggi, memicu kekhawatiran inflasi dan mempersulit prospek kebijakan moneter.
