Berkaitan dengan data, Iendra juga mengakui bahwa masih adanya potensi margin eror karena perbedaan metode. Misalnya kondisi Masjid Raya Al Jabbar yang tinggi karena punya metode atau sistem yang lebih mapan dalam perhitungan dibandingkan objek wisata lain.
Menurut Iendra, pihak sudah berulang kali mendorong Pemda Kabupaten/Kota untuk mengingatkan juga pengelola melalui asosiasinya untuk tertib memasukkan data. “Masalah data ini memang banyak faktor. Bisa juga kesiapan dari metodenya mereka menghitung,” katanya. (son)
