Di sisi lain, Damkar juga dibatasi oleh standar waktu respons yang ketat. Dalam Standar Pelayanan Minimal (SPM), waktu respons maksimal ditetapkan hanya 15 menit sejak laporan diterima hingga penanganan awal dilakukan.
“Itu nggak boleh itu itunya 15 menit. Kalau kebakaran tuh response time 15 menit. Lebih dari 15 menit walaupun jauh kita dianggap tidak bekerja. Dan itu tuh ratingnya hitam bukan merah lagi,” tegas Achmad.
Ia menambahkan, waktu tersebut dihitung sejak petugas menerima laporan hingga mulai melakukan penanganan di lokasi.
Baca Juga:Kisah Nyeleneh Damkar Cimahi, Diminta Tagih Pinjol hingga Lepas Cincin Batu AkikData Damkar Cimahi: Kejadian Kebakaran Menurun tapi Kasus Non Kebakaran Melonjak
“Jadi begitu nerima telepon Damkar itu meluncur sampai pasang nosel air, nah itu dihitung 15 menit. Lebih dari itu sudah nggak bisa lagi dianggap dia bekerja gitu,” jelasnya.
Standar tersebut berlaku secara nasional dan menjadi acuan utama dalam penilaian kinerja Damkar.
“SPM-nya jelas, Standar Pelayanan Minimal gitu maksimalnya gitu. Aturan itu satu Indonesia. Iya, makanya diwajibkan punya pos di tiap kecamatan atau dia punya pos di tiga kelurahan satu pos,” katanya.
Selain tekanan teknis, petugas Damkar juga dituntut memiliki pendekatan humanis dalam menjalankan tugas penyelamatan, termasuk saat menangani hewan.
“Itu kan belum ini itu, belum kita penyelamatan kucing, itu nggak bisa Damkar misalkan nyelamatin kucing, anjing atau hewan ya, seenaknya misalkan dipukul, nggak bisa. Itu marah-marah nanti yang punya, jadi emang kita harus jadi penyayang juga,” tuturnya.
Tak hanya itu, Achmad juga mengungkapkan adanya fenomena panggilan prank yang kerap masuk ke layanan Damkar.
“Ada juga yang suka ya main-mainin lah gitu nya Damkar gitu gitu ya misalkan banyak yang apa, joke atau nge-prank gitu ada juga,” ujarnya.
Baca Juga:Cerita Unik Damkar Cimahi: Padamkan Api, jadi Psikolog Putus Cinta hingga Rayakan Ulang Tahun WargaDamkar Petakan Titik Rawan, Permukiman Padat di Cimahi Rentan Kebakaran
Bentuk prank tersebut beragam, mulai dari pertanyaan tidak relevan hingga sekadar menguji respons petugas.
“‘Ini halo dengan Damkar?’ misalnya. ‘Ya kenapa?’. ‘Damkar bisa mademin api nggak?’ gitu kan ya. Jadi ya seperti itulah yang terjadi,” katanya.
Bahkan, ada pula permintaan di luar tugas utama Damkar. Di tengah berbagai tantangan tersebut, Damkar tetap dituntut untuk sigap, cepat, dan profesional dalam menangani setiap laporan yang masuk.
