BANDUNG – Pengamat Ekonomi Universitas Pasundan (Unpas) Kota Bandung Acuviarta Kartabi, menyoroti kenaikan harga kebutuhan pokok setiap menjelang libur Lebaran seperti Idulfitri 1447 H/2026 maupun hari-hari besar keagamaan lainnya. Pria yang akrab disapa-Acu itu menilai, fenomena ini bukan sekadar musiman, melainkan kegagalan struktural pemerintah daerah dalam mengendalikan inflasi pangan yang berulang setiap hari besar keagamaan dan libur panjang.
Menurut Acu, sektor investasi dan pariwisata di Bandung memang mulai menunjukkan geliat dengan pembangunan hotel dan rumah sakit skala besar. Kota ini sebagai destinasi wisata seharusnya mampu mendorong ekonomi perdagangan di Bandung Raya. Namun, realitas di lapangan justru sebaliknya.
Dia menyebut, harga komoditas pokok seperti daging, telur, cabai, dan beras terus merangkak naik secara signifikan. “Kenakan harga ini banyak dipicu oleh administered price atau kebijakan pemerintah seperti kenaikan BBM dan penyesuaian HET gas, ditambah gangguan pasokan dari kawasan produksi luar Bandung. Kota Bandung kan pasar, bukan produsen utama pangan,” ujar Acu saat dohubungin Jabar Ekspres melalui telepon selulernya, Senin (30/3/2026).
Baca Juga:Ekonomi Bandung Tumbuh 5,29 Persen, Billy Martasandy Dorong UMKM Naik KelasDPRD Bandung Sayangkan Kematian Dua Anak Harimau Bandung Zoo
Ia menegaskan, kenaikan harga menjelang hari raya bukan hal baru. Mindset pedagang yang melihat momen Lebaran sebagai kesempatan spekulasi harga, ditambah penerimaan konsumen yang menganggapnya “wajar”, membuat lonjakan ini sulit dicegah. Padahal, dari sisi ekonomi, kenaikan tersebut kurang menguntungkan karena bersifat insidentil dan hanya didorong oleh uang THR serta gaji ke-13, bukan pertumbuhan fundamental.
Acu menilai Pemkot Bandung sebenarnya memiliki instrumen kuat untuk intervensi kenaikan harga. Pemkot kata dia, memiliki perangkat seperti Satgas Pangan, TPID (Tim Pengendalian Inflasi Daerah), dan Tim Pengendali Deflasi. “Inflasi dan kenaikan harga adalah masalah ekonomi serius. Harga yang sudah naik susah turun lagi. Sekarang kita sudah berada di posisi harga puncak, meski inflasi headline terlihat rendah,” katanya.
Ia mencontohkan kasus beras yang ironis. Kata Acu, meski pemerintah pusat mengklaim swasembada beras dengan stok Bulog melimpah, harga beras tetap naik terus. “Pemerintah pusat saja tak mampu mengatur beras, apalagi daerah. Ini menunjukkan ada persoalan serius di rantai distribusi dan produksi,” tegasnya.
