JABAR EKSPRES – Ancaman siber kini bergeser. Bukan lagi semata menyerang sistem, melainkan manusia dibaliknya. Di Cimahi, rendahnya literasi keamanan digital membuka celah lebar bagi pelaku kejahatan untuk memperdaya korban melalui skema yang tampak sederhana, promo, tautan, dan pesan mendesak.
Dalam banyak kasus, serangan justru tidak membutuhkan teknologi canggih. Pelaku cukup memainkan emosi mendesak, menakut-nakuti, atau menjanjikan keuntungan hingga korban secara sukarela menyerahkan data pribadi.
Fenomena ini menegaskan satu hal: titik terlemah dalam keamanan siber bukan selalu infrastruktur, melainkan pengguna itu sendiri. Di tengah situasi tersebut, kesiapan pemerintah daerah menjadi sorotan.
Baca Juga:Mengintip Strategi Diskominfo Cimahi Hadapi Ancaman Siber, Zero Trust dan SOC TerpaduPemkot Cimahi Perkuat Pertahanan Siber Lewat 2 Hal Ini!
Tak hanya dituntut mencegah, pemerintah juga harus mampu merespons cepat ketika serangan terjadi, terutama untuk melindungi layanan publik dan data masyarakat.
Pemerintah Kota Cimahi menyatakan telah menyiapkan sistem respons insiden yang terstruktur. Pendekatan ini dirancang agar serangan tidak berhenti pada penanganan, tetapi juga menjadi dasar perbaikan sistem ke depan.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Cimahi, Ahmad Saefulloh, mengatakan pihaknya telah membentuk tim khusus, CIMAHI-CSIRT (Computer Security Incident Response Team).
Ia menerangkan, CIMAHI-CSIRT bekerja berdasarkan incident response framework yang mencakup tahapan preparation, detection dan analysis, containment, eradication, recovery, serta post-incident review.
“Sehingga setiap insiden tidak hanya ditangani secara reaktif, tetapi juga menjadi bahan peningkatan sistem ke depan (continuous improvement),” ungkapnya saat diwawancarai Jabar Ekspres, Senin (30/3/2026).
Dari sisi teknis, pemerintah mengandalkan sistem Security Operations Center (SOC) dengan pemantauan real-time untuk mendeteksi anomali sejak dini. Sistem ini terintegrasi dengan berbagai perangkat keamanan, termasuk analisis log dan threat intelligence.
“Ketika terdeteksi indikasi serangan, sistem secara otomatis dapat memicu alerting dan initial response, yang kemudian ditindaklanjuti oleh tim CIMAHI-CSIRT,” ujarnya.
Baca Juga:Celah Siber Pemerintah Disindir Hacker, Disdukcapil Cimahi Minta Warga Jangan Panik36 Ribu Serangan Siber Gagal Tembus, Diskominfotik KBB Pastikan Data Penduduk Aman
Sementara itu, menurut Kepala Seksi (Kasie) Persandian dan Pengembangan Sumber Daya Telematika, Deni Prayitno menjelaskan, penguatan sistem juga diarahkan pada pemanfaatan teknologi yang lebih adaptif.
“Pemerintah mulai mengadopsi Extended Detection and Response (XDR) untuk memperluas visibilitas ancaman, serta Security Orchestration, Automation, and Response (SOAR) guna mempercepat penanganan insiden,” jelas Deni.
