JABAR EKSPRES – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung, memastikan kematian seekor anak harimau Benggala di Kebun Binatang Bandung disebabkan infeksi virus, bukan kelalaian perawatan.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengatakan anak harimau bernama Huru mati di usia 8 bulan pada Selasa (24/3/2026). Sementara satu anak harimau lainnya, kembarannya, masih dalam penanganan dan menunjukkan kondisi membaik. Keduanya merupakan anak dari pasangan Sahrulkan dan Jelita yang lahir pada 12 Juli 2025.
“Bukan karena tidak terawat, tapi karena virus yang dibawa induknya. Ini memang virus khas pada keluarga kucing besar,” kata Farhan di Terminal Leuwipanjang, Bandung, baru-baru ini.
Baca Juga:Huru dan Hara, Bayi Harimau Benggala di Bandung Zoo Siap Jadi Idola BaruDua Harimau Benggala Lahir di Bandung Zoo, Petugas Pastikan Rawat dengan Baik
Farhan menjelaskan, induk harimau tersebut merupakan carrier atau pembawa virus yang menular kepada anak-anaknya sejak lahir. Dari dua anak yang terinfeksi, satu tidak berhasil diselamatkan, sementara satu lainnya masih menjalani perawatan intensif.
Dia menyebut virus yang menyerang adalah Feline Panleukopenia, penyakit yang umum menyerang keluarga felin seperti harimau dan kucing. Virus ini dapat menyebabkan penurunan drastis sel darah putih sehingga membuat kondisi tubuh hewan sangat lemah.
Menurut Farhan, sejak awal kedua anak harimau telah dipisahkan dari induknya sebagai langkah penanganan. Induknya sendiri dalam kondisi sehat karena memiliki daya tahan terhadap virus tersebut.
Pemerintah Kota Bandung bersama tim dokter hewan terus melakukan pemantauan ketat terhadap anak harimau yang masih bertahan. Berdasarkan laporan terbaru, kondisinya mulai membaik.
“Diare sudah tidak ada, muntah juga berhenti, dan kondisinya lebih aktif dibandingkan hari sebelumnya. Makan juga sudah mulai masuk,” jelas Farhan.
Penanganan dilakukan secara intensif oleh lima dokter hewan dengan pemberian antibiotik, antiemetik, cairan rehidrasi, suplemen imun, serta antivirus. Farhan menyebut anak harimau tersebut telah melewati fase kritis selama 72 jam.
“Biasanya kalau sudah lewat fase kritis ini, peluang untuk terus membaik semakin besar. Tapi tetap harus dipantau secara intensif,” katanya.
Baca Juga:Kenalan dengan Kuna dan Jelita, Dua Harimau Koleksi Baru Kebun Binatang BandungIbu Bertarung Dengan Harimau Benggala Demi Selamatkan Sang Anak
Dia memastikan tidak ada unsur penelantaran dalam kasus ini dan seluruh tenaga medis telah siaga sejak awal. Ke depan, pemerintah akan melakukan evaluasi menyeluruh dalam pengelolaan satwa, khususnya terkait pengawasan penyakit menular.
