“Walau harga naik, tetap ada yang beli karena ini kebutuhan Lebaran, terutama buat opor,” tuturnya.
Di sisi lain, kondisi berbeda terjadi pada komoditas kelapa. Hingga H-3 Lebaran, permintaan kelapa di Pasar Tagog Padalarang masih terbilang sepi. Utar (52), pedagang kelapa, mengatakan belum terlihat peningkatan signifikan seperti tahun-tahun sebelumnya.
Menurutnya, salah satu penyebab lesunya pembeli adalah kekhawatiran masyarakat terhadap daya tahan kelapa yang mudah basi jika dibeli terlalu jauh dari waktu penggunaan. Selain itu, faktor daya beli yang menurun juga turut memengaruhi kondisi pasar.
Baca Juga:Perkuat Ketahanan Pangan Jelang Lebaran, BULOG Bandung Salurkan Bantuan Beras dan Minyak GorengDirikan Klub Satelit di Bandung, PB Jaya Raya siap Hadirkan Atlet Berpotensi untuk Bulu Tangkis
“Pembeli masih sepi. Orang khawatir kelapa cepat basi kalau dibeli terlalu awal,” katanya.
Ia menambahkan, harga kelapa juga mengalami kenaikan sejak H-7 Lebaran.“Harga kelapa naik terus dari Rp 15.000 jadi Rp 25.000 per butir,” ujarnya.
Belajar dari pengalaman tahun sebelumnya, Utar memilih mengurangi stok untuk menghindari kerugian. Ia mengaku hanya menyediakan sekitar 500 butir kelapa tahun ini, lebih sedikit dibandingkan sebelumnya yang bisa mencapai lebih dari 1.000 butir.
“Tahun ini saya kurangi stok, karena daya beli juga menurun,” pungkasnya. (Wit)
