JABAR EKSPRES – perayaan Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1948 pada 2026 yang berdekatan dengan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriyah menghadirkan makna tersendiri di Kota Cimahi. Dua momentum besar keagamaan ini tidak sekadar beriringan dalam kalender, tetapi menjadi simbol kuat harmoni dan kebersamaan di tengah keberagaman masyarakat.
Di Pura Agung Wira Loka Natha, umat Hindu bersama warga sekitar memaknai perayaan tersebut sebagai ruang untuk memperkuat nilai toleransi antarumat beragama. Kebersamaan ini tercermin dalam berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat lintas latar belakang.
Wakil Ketua Pura Agung Wira Loka Natha, Putu Yasa, menegaskan bahwa kedekatan waktu dua hari besar ini menjadi momentum penting untuk mempererat hubungan sosial dan spiritual di masyarakat, khususnya di wilayah Cimahi dan sekitarnya.
Baca Juga:Dirikan Klub Satelit di Bandung, PB Jaya Raya siap Hadirkan Atlet Berpotensi untuk Bulu Tangkis Perkuat Silaturahmi, Ketua Relawan Bedas Galih Hendrawan Salurkan Paket Sembako di Pameungpeuk
“Kami warga Hindu yang ada di Kota Cimahi dan Bandung Raya sangat menjunjung tinggi toleransi artinya perayaan hari Nyepi disini ya kita sama-sama melaksanakan dan menghargai,” kata Putu Yasa saat ditemui di Pura Agung Wira Loka Natha, Jalan Sriwijaya Raya, Karangmekar, Cimahi Tengah, Kota Cimahi, Selasa (17/3/26).
Selain menjalankan ritual keagamaan, umat Hindu di Cimahi juga menggelar gerakan penanaman pohon yang dikenal sebagai Green Dharma. Program ini mengajak masyarakat luas untuk menjaga kelestarian alam sebagai bagian dari praktik spiritual dalam ajaran Hindu.
Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi simbol kepedulian lingkungan, tetapi juga memperkuat nilai kebersamaan di tengah masyarakat yang majemuk.
“Kita melaksanakan Makerti Ayuning Segara, nah kalau di Cimahi lebih pas nya itu kita melaksanakan penanaman pohon yang kita sebut dengan Green Dharma,” jelasnya.
Putu Yasa menambahkan, Green Dharma memiliki filosofi mendalam mengenai hubungan manusia dengan alam semesta, yang dipandang sebagai ciptaan yang harus dijaga.
“Itu adalah menjaga kelestarian alam jadi pada hakikatnya semesta ini adalah sang maha kuasa, sang maha pencipta yang harus di jaga dan dilestarikan,” ungkap Putu Yasa.
Sementara itu, Wali Kota Cimahi Ngatiyana menilai momen berdekatan antara Nyepi dan Ramadan mencerminkan nilai toleransi yang telah mengakar di masyarakat. Ia menyebut, perbedaan keyakinan tidak menjadi penghalang dalam menjaga persatuan.
