JABAR EKSPRES — Memasuki musim kemarau, potensi kebakaran di kawasan permukiman menjadi perhatian serius Pemerintah Kota Bandung. Masyarakat pun diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan guna mencegah terjadinya insiden yang dapat merugikan banyak pihak.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Bandung, Didi Ruswandi, menegaskan bahwa meskipun kebakaran permukiman tidak termasuk dalam kategori bencana berdasarkan regulasi kebencanaan nasional, dampak yang ditimbulkan tetap signifikan bagi kehidupan masyarakat.
“Kebakaran permukiman memang tidak masuk dalam kategori bencana secara regulasi. Namun dampaknya sangat besar, terutama bagi warga terdampak. Karena itu, kami terus mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan,” ujar Didi dalam keterangannya, Selasa (17/3/2026).
Baca Juga:Si Jago Merah Mengamuk di Paseh Sumedang, Bangunan Warung Dilahap dan Dua Korban Alami Luka Bakar Tiga Gudang di Gang Kurdi Bandung Terbakar, Diduga Berawal dari Korsleting Listrik
Menurutnya, risiko kebakaran di Kota Bandung selama musim kemarau cenderung lebih banyak terjadi di lingkungan permukiman dan kawasan dengan vegetasi kering, dibandingkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Hal ini disebabkan oleh kondisi geografis Bandung yang tidak memiliki kawasan hutan luas seperti daerah lain di Indonesia.
Ia mencontohkan, wilayah seperti Kalimantan kerap menghadapi kebakaran hutan saat musim kemarau. Sementara itu, Kota Bandung relatif lebih aman dari ancaman tersebut, namun tetap memiliki potensi kebakaran yang tidak bisa diabaikan.
“Kalau di daerah lain seperti Kalimantan, musim kemarau identik dengan kebakaran hutan dan lahan. Di Bandung, potensi itu relatif kecil karena tidak ada hutan luas. Namun bukan berarti kita bebas dari risiko kebakaran,” jelasnya.
Didi menjelaskan, musim kemarau termasuk dalam kategori hidrometeorologi kering, di mana kondisi lingkungan menjadi lebih rentan terhadap api. Vegetasi yang mengering seperti ilalang, semak, dan dedaunan kering dapat dengan mudah terbakar hanya karena percikan api kecil, baik dari aktivitas manusia maupun faktor lainnya.
Karena itu, warga yang tinggal di wilayah dataran tinggi atau kawasan yang masih memiliki banyak ruang terbuka hijau diminta untuk lebih berhati-hati. Area dengan vegetasi kering dinilai menjadi titik rawan yang perlu mendapat perhatian khusus selama musim kemarau berlangsung.
“Wilayah bagian atas kota yang masih memiliki vegetasi kering harus lebih waspada. Potensi kebakaran bisa muncul kapan saja jika tidak diantisipasi dengan baik,” katanya.
