Mantan Wakil Jaksa Agung Ungkap Rahasia Integritas Jaksa, Ternyata Berawal dari Keluarga

Wakil Jaksa Agung
Wakil Ketua Jaksa Agung RI, Setia Untung Arimuladi saat memperlihatkan karya buku terbarunya (Suwitno/Jabar Ekspres)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Mantan Wakil Ketua Jaksa Agung RI, Setia Untung Arimuladi menilai keluarga memiliki pengaruh besar dalam membentuk integritas aparat penegak hukum sejak dini.

Hal itu diungkapkan mantan Setia Untung Arimuladi, melalui buku yang ia tulis tentang pembentukan karakter jaksa.

Buku setebal 156 halaman berjudul Dari Rumah ke Penegakan Hukum ‘Peran Keluarga dalam Pengawasan dan Pembentukan Integritas Jaksa’ tersebut diterbitkan oleh Intelegensia Media pada Desember 2025.

Baca Juga:PT Pegadaian Perkokoh Posisi sebagai Motor Penggerak Ekonomi NasionalJangan Salah Pilih! Ini Panduan Lengkap Memilih Sanitary Valve Berkualitas dari Arita untuk Bisnis Anda

Dalam buku itu, Setia Untung mengulas pentingnya lingkungan keluarga sebagai fondasi awal dalam menanamkan nilai-nilai integritas bagi aparat penegak hukum.

Menurutnya, integritas seorang jaksa tidak hanya dibentuk melalui sistem kelembagaan, aturan, maupun mekanisme pengawasan internal, tetapi juga berasal dari proses pembelajaran nilai-nilai moral yang berlangsung sejak dini di lingkungan keluarga.

“Integritas merupakan nilai yang tumbuh sejak dini dan dibentuk melalui proses panjang dalam keluarga,” tulis Setia Untung dalam pengantar bukunya.

Ia menjelaskan, selama ini diskursus mengenai integritas aparat penegak hukum di Indonesia lebih banyak berfokus pada pendekatan struktural.

Misalnya melalui penguatan pengawasan internal, penerapan sanksi disiplin, maupun pembenahan regulasi kelembagaan.

Pendekatan tersebut dinilai penting dalam menjaga profesionalitas aparat hukum.

Namun, menurutnya, upaya tersebut belum sepenuhnya menyentuh akar persoalan yang berkaitan dengan pembentukan karakter individu aparat penegak hukum itu sendiri.

Setia Untung yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Keluarga Besar Purna Adhyaksa menilai keluarga merupakan ruang sosial pertama bagi seseorang untuk mengenal nilai-nilai dasar kehidupan.

Baca Juga:Pegadaian dan Masjid Salman ITB Siapkan Pondasi Ekonomi Syariah Menuju Generasi Emas 2045Bukan Keracunan, Dapur SPPG di Surade Sukabumi Tutup Karena Konflik

Di dalam keluarga, seseorang mulai belajar mengenai kejujuran, tanggung jawab, disiplin, hingga keteladanan.

Nilai-nilai tersebut kemudian membentuk cara berpikir, sikap, dan perilaku seseorang ketika menjalankan profesinya di kemudian hari.

Dalam buku tersebut, ia juga memperkenalkan konsep Preventive Cognitive Family Mode, yakni pendekatan yang memadukan teori kognitif sosial, behaviorisme, serta sistem keluarga dalam membentuk karakter integritas seseorang.

Konsep tersebut menjelaskan bahwa pola asuh orang tua, interaksi antaranggota keluarga, hingga proses penanaman nilai moral di rumah memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan karakter individu.

0 Komentar