Jepang Pertimbangkan Bergabung dengan Sistem Pertahanan Rudal Golden Dome Milik AS

Jepang Pertimbangkan Bergabung dengan Sistem Pertahanan Rudal Golden Dome Milik AS
PM Jepang, Sanae Takachi (SUMBER FOTO: X/takaichi_sanae)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Pemerintah Jepang dilaporkan tengah mempertimbangkan untuk ikut serta dalam sistem pertahanan rudal berlapis milik Amerika Serikat yang dikenal sebagai Golden Dome. Keputusan terkait rencana tersebut diperkirakan akan diumumkan dalam pertemuan puncak bilateral di Washington.

Menurut laporan surat kabar The Japan News yang dirilis pada Jumat, pemerintah Jepang sedang menyiapkan pembahasan terkait kerja sama pertahanan tersebut dalam agenda pertemuan antara kedua negara. Dalam pertemuan itu, Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, disebut akan menyampaikan tujuan dan rencana Jepang untuk bergabung dalam proyek sistem pertahanan Golden Dome.

Sistem pertahanan rudal berlapis Golden Dome merupakan program yang dipromosikan oleh Presiden AS, Donald Trump. Program ini direncanakan mulai beroperasi pada Januari 2029 sebagai bagian dari upaya memperkuat perlindungan wilayah Amerika dari berbagai ancaman rudal modern.

Baca Juga:Serangan Drone dan Rudal Iran Digagalkan, Arab Saudi, UEA, dan Bahrain Aktifkan Sistem PertahananTrump Ancam Serangan 20 Kali Lebih Keras Jika Iran Ganggu Pasokan Minyak di Selat Hormuz

Dalam pengembangannya, sistem Golden Dome akan memanfaatkan teknologi canggih seperti pencegat berkecepatan tinggi yang mampu melaju lebih dari Mach 5, kendaraan luncur hipersonik atau Hypersonic Glide Vehicle (HGV), serta pesawat nirawak atau drone untuk memperkuat sistem pertahanan udara.

Jepang berharap keterlibatan dalam proyek tersebut dapat membuka akses terhadap teknologi pertahanan mutakhir yang nantinya juga bisa diterapkan untuk memperkuat sistem keamanan nasional mereka.

Selain itu, Jepang dan Amerika Serikat juga sedang bekerja sama dalam pengembangan rudal pencegat generasi baru yang dirancang khusus untuk menghadapi ancaman kendaraan luncur hipersonik. Para pengembang memperkirakan rudal tersebut mampu menghentikan target hipersonik saat masih berada pada fase luncur di atmosfer.

Proyek pengembangan rudal pencegat tersebut diproyeksikan selesai pada tahun 2030. Rencana lanjutan terkait pengembangan dan implementasi teknologi ini juga akan menjadi salah satu topik yang dibahas dalam pertemuan puncak kedua negara.

Di sisi lain, Jepang juga tengah mempersiapkan peluncuran jaringan satelit berukuran kecil yang dirancang untuk mengumpulkan data intelijen dan informasi strategis. Sistem satelit ini ditargetkan mulai beroperasi pada akhir Maret 2028.

Sebagai langkah awal, satelit pertama dari jaringan tersebut dijadwalkan diluncurkan pada April tahun ini.

Pertemuan puncak antara Jepang dan Amerika Serikat sendiri dijadwalkan berlangsung pada Kamis, 19 Maret, di Washington. Kunjungan tersebut juga akan menjadi perjalanan resmi pertama Sanae Takaichi ke Amerika Serikat sejak menjabat sebagai perdana menteri Jepang.

0 Komentar