JABAR EKSPRES – Ramainya kebutuhan uang pecahan kecil menjelang Idulfitri dimanfaatkan sejumlah warga di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), dengan membuka jasa penukaran uang selama bulan Ramadan.
Para pelaku usaha memanfaatkan badan jalan dengan memarkirkan kendaraan roda empat yang dijadikan lapak transaksi penukaran uang.
Dari balik mobil yang terparkir, mereka menawarkan berbagai pecahan uang kertas mulai dari Rp2.000, Rp5.000, Rp10.000 hingga Rp20.000 kepada pengendara yang melintas.
Baca Juga:Harga BBM Subsidi Tak Naik Meski Minyak Dunia Meroket, Benarkah?Penukaran Uang Baru Jelang Idulfitri 2026 Dibuka, Ini Jadwal Pemesanannya!
Fenomena jasa penukaran uang tersebut hampir selalu muncul setiap tahun menjelang Idulfitri, seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap uang pecahan kecil untuk keperluan berbagi saat Lebaran.
Salah seorang penyedia jasa penukaran uang, Marlita (56), mengatakan usaha tersebut biasanya hanya ramai pada bulan Ramadan.
Menurutnya, meningkatnya kebutuhan uang pecahan kecil membuat banyak warga memanfaatkan momen tersebut untuk membuka jasa penukaran.
“Biasanya memang hanya ada di bulan Ramadan. Soalnya permintaan uang pecahan kecil meningkat untuk kebutuhan Lebaran,” kata Marlita saat ditemui di Padalarang, Selasa (10/3/2026).
Ia menjelaskan keuntungan dari jasa penukaran tersebut berasal dari potongan biaya sekitar 15 persen dari total uang yang ditukar.
“Misalnya orang menukar Rp1 juta, biasanya ada selisih sekitar Rp150 ribu yang menjadi keuntungan dari jasa penukaran,” ujarnya.
Marlita mengungkapkan, pada musim Ramadan tahun sebelumnya perputaran uang yang ditangani satu lapak penukaran bahkan bisa mencapai ratusan juta rupiah.
Baca Juga:Anggaran MBG Berpotensi Dipangkas, Imbas Perang Iran vs Israel-AS?Masyarakat Diminta Tak "Panic Buying" BBM, Stok Aman?
“Kalau melihat tahun kemarin, uang yang berputar bisa sekitar Rp500 juta sampai Rp700 juta selama Ramadan,” tuturnya.
Jika dihitung dari potongan sekitar 15 persen, penyedia jasa berpotensi meraih keuntungan hingga puluhan juta rupiah dalam satu bulan.
Meski demikian, Marlita mengaku jumlah masyarakat yang menukar uang pada Ramadan tahun ini tidak seramai tahun sebelumnya.
“Tahun ini terasa lebih sepi. Yang datang menukar uang tidak sebanyak tahun lalu,” katanya.
Ia menduga penurunan tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, mulai dari kondisi ekonomi yang melemah hingga semakin luasnya penggunaan transaksi digital di masyarakat.
“Sekarang orang juga banyak yang pakai transfer atau dompet digital, jadi kebutuhan uang pecahan tidak sebanyak dulu,” ucapnya.
