JABAR EKSPRES – Harga beras medium hingga premium di sejumlah pasar di Kota Bandung mengalami kenaikan dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi ini dikeluhkan para pedagang kecil yang merasa semakin sulit mendapatkan pasokan, sementara harga di tingkat eceran terus merangkak naik.
Seorang pedagang beras di kawasan Jalan Cipaera, Siti, mengungkapkan bahwa harga beras saat ini berada di kisaran Rp14.000 hingga Rp17.000 per kilogram, tergantung kualitasnya. Menurutnya, kenaikan harga ini tidak terlepas dari ketatnya persaingan dalam penyerapan hasil panen.
“Sekarang musim panen, tapi berasnya banyak diserap oleh Bulog dan perusahaan besar. Jadi yang masuk ke pasar kecil seperti kami jadi berkurang,” ujarnya, kepada Jabarekspres, Selasa (5/5).
Baca Juga:Sindikat Curanmor Jonggol Terbongkar, Pelaku dan Dua Penadah Dibekuk PolisiNobar Berujung Maut, Bobotoh Muda di Tasikmalaya Tewas Diduga Dikeroyok
Ia menjelaskan, beras dengan kualitas baik umumnya langsung diserap oleh perusahaan besar, sementara beras dengan harga lebih rendah diserap oleh pemerintah melalui Bulog. Akibatnya, pedagang kecil kesulitan memperoleh stok dalam jumlah memadai.
Tidak hanya itu, Ibu Siti juga mengaku tidak pernah mendapatkan pasokan dari program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Padahal, program tersebut diharapkan dapat membantu menjaga kestabilan harga di tingkat pedagang dan konsumen.
“Dari dulu tidak pernah dapat SPHP. Jadi kami harus cari sendiri, sementara barangnya terbatas,” katanya.
Keterbatasan stok juga diperparah oleh minimnya modal pedagang kecil. Mereka tidak mampu bersaing dengan perusahaan besar maupun lembaga pemerintah yang memiliki daya beli lebih tinggi.
“Kalau yang bermodal besar bisa ambil banyak. Kami yang kecil jadi kalah,” tambahnya.
Meski demikian, kondisi penjualan saat ini masih tergolong stabil, meski tidak menunjukkan peningkatan signifikan. Namun, ia khawatir jika kondisi ini terus berlanjut, harga beras akan semakin sulit dijangkau masyarakat.
Para pedagang berharap pemerintah tidak hanya fokus pada penyerapan hasil panen, tetapi juga memastikan distribusi yang merata hingga ke pasar tradisional. Tanpa langkah konkret, kenaikan harga beras dikhawatirkan akan terus berlanjut dan semakin memberatkan masyarakat.
Baca Juga:Gubernur Ahmad Luthfi dan Sungai Watch Bakal Kolaborasi Bersihkan Sampah Sungai di Jateng Jembatan Darurat Sungai Cigoha Kembali Ambruk, Warga Tanjungsari Terpaksa Putar Jauh
Fenomena ini mencerminkan adanya ketimpangan dalam rantai distribusi pangan, di mana pedagang kecil dan konsumen menjadi pihak yang paling terdampak. Jika tidak segera ditangani, stabilitas harga beras di Kota Bandung berpotensi semakin tidak terkendali. (dam)
