JABAR EKSPRES – Sebanyak 210 pekerja migran Indonesia (PMI) asal Kabupaten Bandung Barat (KBB) tercatat masih bekerja di sejumlah negara Timur Tengah di tengah memanasnya konflik kawasan tersebut.
Berdasarkan data Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) KBB dari sistem pencatatan pekerja migran yang terdaftar secara resmi. Mereka tersebar di beberapa negara tujuan penempatan seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Jordania.
Kepala Bidang Pelatihan, Produktivitas, Penempatan Tenaga Kerja, dan Transmigrasi (P3TKT) Disnaker KBB, Dewi Andani, mengatakan sebagian besar pekerja migran tersebut masih terikat kontrak kerja sehingga belum dapat kembali ke Indonesia dalam waktu dekat.
Baca Juga:Transaksi ZISWAF BSI Naik 14 Persen Selama Ramadan Silaturahmi Akbar PKB, Kang Cucun Serahkan Kendaraan Ambulans untuk 31 Kecamatan
“Berdasarkan data yang tercatat di aplikasi Siap Kerja dan Sisko PMI, ada 210 pekerja migran asal Bandung Barat yang saat ini bekerja di kawasan Timur Tengah. Dari jumlah itu sekitar 184 orang masih menjalani kontrak kerja aktif,” ujar Dewi saat dikonfirmasi, Jumat (6/3/2026).
Selain itu, Disnaker KBB juga mencatat terdapat 26 calon PMI asal Bandung Barat yang saat ini masih berada dalam tahap persiapan keberangkatan. Mereka tengah mengikuti pelatihan sebelum diberangkatkan ke negara tujuan.
Meski situasi geopolitik di Timur Tengah sedang memanas, hingga saat ini pihaknya belum menerima pemberitahuan resmi terkait kemungkinan penundaan keberangkatan para calon pekerja tersebut.
“Sebanyak 26 orang masih dalam tahap pelatihan sebagai persiapan keberangkatan. Sampai sekarang belum ada informasi mengenai penundaan dari pihak terkait,” katanya.
Dewi menambahkan, jumlah PMI asal Bandung Barat yang bekerja di luar negeri kemungkinan lebih banyak dibandingkan data resmi yang tercatat. Hal itu disebabkan masih adanya pekerja yang berangkat melalui jalur nonprosedural atau ilegal.
“Kalau yang berangkat secara nonprosedural kemungkinan jumlahnya lebih banyak. Kondisi ini seperti fenomena gunung es karena tidak semuanya tercatat dalam sistem,” ucapnya.
Untuk mengantisipasi dampak konflik terhadap keselamatan para pekerja migran, Disnaker KBB mengaku terus melakukan koordinasi dengan berbagai pihak guna memantau kondisi para PMI di negara penempatan.
Baca Juga:Hj Renie Rahayu Fauzi Hadiri Reses Wakil Ketua DPR RI H Cucun A Syamsurijal Dari Fraksi PKBBupati Bandung Sidak RSUD Bedas Arjasari, Soroti Proyek 'Anggeus Tapi Teu Anggeus'
“Sejauh ini kami terus berkomunikasi dengan instansi terkait untuk memastikan kondisi mereka tetap aman. Sampai sekarang belum ada laporan PMI asal Bandung Barat yang terdampak langsung konflik,” pungkasnya. (Wit)
