JABAR EKSPRES – Pemerintah Indonesia mulai memperkuat strategi ketahanan energi dengan mengamankan pasokan dari berbagai negara di luar kawasan Timur Tengah.
Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi dampak ketegangan geopolitik, khususnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang berpotensi mengganggu stabilitas pasokan energi global.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan Indonesia telah mengamankan pasokan energi dari berbagai sumber di luar Timur Tengah sebagai langkah mitigasi menghadapi dampak perang Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Baca Juga:Mudik Gratis Lebaran 2026 di Bandung Barat Resmi DibukaDorong Ekspor UMKM, Wamendag Ajak Masyarakat Jadi Duta Produk Indonesia
Ia juga menyebut sejumlah alternatif pasokan energi berasal dari kerja sama perdagangan dengan AS serta akses pasokan yang dimiliki oleh PT Pertamina dari Venezuela.
“Kalau dari segi energi, karena kebetulan kita sudah tanda tangan ART (Agreement of Reciprocal Trade), memang suplai dari energi kita sudah juga melakukan MoU dengan Amerika Serikat dan juga Pertamina punya akses ke Venezuela,” kata Airlangga dikutip dari ANTARA, Jumat (6/3/2026).
Saat ini pemerintah terus memantau perkembangan situasi global yang sulit diprediksi, Airlangga juga mengaku pemerintah Indonesia sudah lebih siap menghadapi ketidakpastian dengan belajar dari lonjakan harga energi akibat Rusia dan Ukraina.
Menurutnya, kondisi tersebut dapat dilihat dari dua sisi. Di satu sisi, pemerintah harus menjaga subsidi energi supaya tidak memberatkan masyarakat. Namun, di sisi lain kenaikan harga komoditas juga bisa meningkatkan penerimaan negara.
“Di satu sisi itu yang terkait dengan subsidi kita jaga dan pemerintah kemarin sudah siapkan bahwa subsidi yang kita akan lanjutkan. Dana APBN itu sebagai buffer untuk meredam fluktuasi harga. Tapi di lain pihak tentu ada kenaikan tambahan penerimaan kalau (harga) komoditas itu naik,” tuturnya.
Meskipun begitu, masih terlalu dini untuk memperkirakan dampak penuh dari dinamika konflik Timur Tengah terhadap ekonomi.
“Kita tentu melihat situasinya, masih too early to call,” katanya.
Baca Juga:Antam Jaga Pasokan Emas Nasional Lewat Perjanjian Jual Beli 6 Ton per Tahun Harga CPO Dunia Melonjak, Bapanas Pertimbangkan Penyesuaian HET MinyaKita
Airlangga juga menilai kondisi global yang tidak pasti membuat investor cenderung menahan ekspansi sehingga ketahanan ekonomi menjadi factor yang semakin penting.
“Inilah yang harus kita dorong karena the new world juga membuat semua investasi akan melihat kembali, dan juga akan menahan karena dalam situasi seperti ini tentu daya tahan, resiliensi itu yang paling utama termasuk juga di sektor ekonomi,” kata Airlangga.
