Inflasi Jabar Februari 2026 Tembus 4,71 Persen Y-on-Y

Kepala BPS Provinsi Jawa Barat, Margaretha Ari Anggorowati. (dok humas)
Kepala BPS Provinsi Jawa Barat, Margaretha Ari Anggorowati. (dok humas)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Inflasi Jawa Barat per Februari 2026 tembus 4,71 persen secara y-on-y. Faktornya kebijakan diskon listrik tahun lalu.

Hal itu berdasarkan hasil publikasi terbaru Badan Pusat Statistik (BPS), Senin (2/3). BPS mencatat, angka itu tentu jauh lebih tinggi dibandingkan Februari 2025.

Saat itu posisinya malah deflasi di angka 0,27 persen. “Tahun lalu deflasi, ” kata Kepala BPS Provinsi Jawa Barat, Margaretha Ari Anggorowati.

Baca Juga:BULOG Bandung Percepat Serapan Gabah Petani di SumedangKehangatan Bernuansa Heritage dalam Momen Berbuka Puasa “A Wishful Ramadan” ala de Braga by ARTOTEL

Ari melanjutkan, faktor yang cukup jelas terlihat dalam posisi inflasi itu adalah dari sektor listrik. Pada 2025 lalu di awal tahun ada kebijakan diskon tarif listrik. Kala itu diberlakukan untuk pelanggan pra bayar maupun pasca bayar. “Jadi pengaruh low base effect dari diskon tarif listrik yang terjadi pada tahun lalu, ” katanya.

Menurut Ari, jika pengaruh listrik ini dikeluarkan dari perhitungan, maka kondisi inflasi Februari ini berubah drastis. Inflasi y-on-y Februari 2026 hanya sebesar 2,65 persen.

Jika dirincikan ada sejumlah komoditas yang menyumbang inflasi. Yakni, tarif listrik sebesar 2,06 persen, emas perhiasan 1,15 persen, daging ayam ras 0,18 persen, beras 0,12 persen, bawah merah 0,12 persen.

Sedangkan komoditas yang memberi andil deflasi di antaranya bensin -0, 10 persen, cabai merah -0, 05 persen. Sementara itu jika secara bulanan atau month to month Jawa Barat mengalami inflasi sebesar 0,81 persen.

Menurut Ari, Februari merupakan momen dimana dimulainya Ramadan, sehingga mendorong kenaikan harga beberapa komoditas bahan pokok di pasar. Salah satunya adalah komoditi cabe rawit yang mengalami lonjakan harga.

Lalu harga emas dunia juga masih menunjukan tren kenaikan secara rata-rata. Namun inflasi sedikit tertahan dengan turunnya harga bahan bakar minyak non subsidi yang berlaku sejak 1 Februari 2026.

Dari pantauan BPS Provinsi Jawa Barat di 10 kabupaten/kota seluruhnya mengalami inflasi secara bulanan. Kota Tasikmalaya mengalami inflasi tertinggi sebesar 0,97 persen, sedangkan Kota Bandung dan Kota Depok mengalami inflasi terendah masing-masing sebesar 0,65 persen.(son)

0 Komentar