“Darurat ini harus menjadi momentum reformasi sistem. Jangan sampai status kota binaan hanya bersifat administratif, tanpa transformasi nyata di lapangan,” tegasnya.
Ia menambahkan, persoalan sampah di Bandung adalah cerminan tantangan kota-kota besar lain di Indonesia. Jika tidak ditangani dengan pendekatan menyeluruh, mulai dari kebijakan, infrastruktur, hingga perubahan perilaku, maka krisis serupa berpotensi terulang.
“Yang dibutuhkan bukan sekadar anggaran tambahan, tapi kepemimpinan yang konsisten dan partisipasi warga. Sampah adalah masalah bersama, dan penyelesaiannya pun harus kolektif,” pungkas Achmad. (Dam)
