JABAR EKSPRES – Amerika Serikat dilaporkan menekan Iran agar membongkar fasilitas utama pengembangan nuklirnya serta menyerahkan seluruh cadangan uranium yang telah diperkaya kepada Washington dalam sebuah kesepakatan permanen tanpa batas waktu. Tuntutan tersebut mencuat dalam putaran ketiga negosiasi nuklir antara kedua negara yang digelar di Jenewa, Swiss.
Menurut laporan media AS yang mengutip pejabat terkait, dalam perundingan tersebut Washington meminta Teheran menutup tiga fasilitas kunci yang berada di Fordow, Natanz, dan Isfahan. Selain itu, Iran juga didesak menyerahkan seluruh stok uranium diperkaya yang diperkirakan mencapai sekitar 10.000 kilogram.
Pemerintah AS menginginkan kesepakatan yang dicapai nantinya tidak memiliki masa kedaluwarsa. Artinya, pembatasan terhadap program nuklir Iran diharapkan berlaku secara permanen, berbeda dari kesepakatan sebelumnya yang memiliki jangka waktu tertentu.
Baca Juga:Tenshin Nasukawa Tantang Juan Francisco Estrada dalam Eliminator WBC Kelas Bantam di TokyoSerangan Udara Israel di Deir al-Balah Tewaskan Dua Warga, Korban Gaza Terus Bertambah
Dalam isu pengayaan uranium, Washington disebut menerapkan kebijakan toleransi nol. Meski demikian, terdapat kemungkinan Iran tetap diizinkan mengoperasikan reaktor di Teheran untuk kepentingan medis, dengan syarat pengayaan dilakukan pada tingkat sangat rendah dan dalam skala terbatas.
Sehari sebelumnya, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mengakui bahwa Iran saat ini tidak sedang melakukan pengayaan uranium. Namun, tawaran dari pihak AS pada tahap awal negosiasi hanya berupa pelonggaran sanksi dalam jumlah terbatas.
Keringanan lebih lanjut dijanjikan apabila Iran menunjukkan kepatuhan berkelanjutan terhadap kesepakatan yang disetujui.
Laporan lain menyebutkan bahwa perundingan di Jenewa berlangsung dalam dua format, yakni pembicaraan tidak langsung dan juga komunikasi langsung antara delegasi kedua negara. Meski demikian, baik Washington maupun Teheran belum secara terbuka mengonfirmasi adanya dialog tatap muka langsung.
Di sisi lain, AS memberi sinyal adanya ruang kompromi terhadap permintaan Iran untuk tetap mempertahankan hak melakukan pengayaan uranium. Namun, fleksibilitas tersebut bergantung pada kemampuan Teheran memberikan jaminan bahwa aktivitas itu tidak akan mengarah pada pengembangan senjata nuklir.
Walau Washington memiliki agenda lebih luas, termasuk membatasi program rudal balistik Iran serta dukungan terhadap kelompok proksi di kawasan, isu-isu tersebut tidak menjadi fokus utama dalam perundingan kali ini. Negosiasi yang dimediasi oleh Oman tersebut secara khusus difokuskan pada persoalan nuklir.
