JABAR EKSPRES – Pemerintah Kota Cimahi tengah melakukan penanganan intensif terhadap sejumlah warga yang menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit di Cimahi, diantaranya RSUD Cibabat, RS Mitra Kasih, dan RS Dustira dengan keluhan serupa, diduga berkaitan dengan konsumsi makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Di tengah banyaknya jumlah pasien dengan keluhan serupa, muncul pertanyaan mengenai kemungkinan penetapan Kejadian Luar Biasa (KLB). Namun, Pemkot Cimahi belum mengambil kesimpulan dan masih menunggu hasil pemeriksaan lanjutan.
“Ya kita lihat, makanya kita pantau penetapan Kejadian Luar Biasa (KLB) kita lihat dari total jumlah keluhan pasien yang mengeluhkan hal yang sama atau hal yang berkaitan dengan keracunan,” kata Wakil Wali Kota Cimahi, Adhitia Yudhistira, Kamis (26/2/26).
Baca Juga:Kehangatan Bernuansa Heritage dalam Momen Berbuka Puasa “A Wishful Ramadan” ala de Braga by ARTOTELAda 250 Kursi Mudik Gratis Pemkot Bandung, Siap Antar Warga Pulang ke Kota-kota Ini!
Saat ini, Pemerintah Daerah bersama fasilitas kesehatan serta laboratorium masih terus melakukan pemantauan epidemiologis guna menelusuri sumber permasalahan sekaligus mengantisipasi agar dampaknya tidak meluas.
“Kemudian ya kita lihat nanti seperti apa hasil dari uji lab yang dilakukan oleh Labkes. Labkes Provinsi,” kata Adhitia.
Terkait gejala yang muncul pada pasien, Adhitia menerangkan gejala didominasi gangguan pencernaan, khususnya muntah, dengan tingkat keparahan yang beragam.
Ia menyebut sebagian besar pasien datang ke fasilitas kesehatan dalam kondisi panik, meski tidak seluruhnya mengalami gejala berat. Pemerintah, kata dia, mengambil langkah cepat agar seluruh pasien dapat ditangani dan dipantau secara medis.
“Semua rata-rata gejala paling parah dimuntah ya. Muntahnya ada yang hebat, ada yang muntah ringan juga ada. Datang ke sini mungkin karena panik. Tapi kita semua tangani agar kita bisa observasi bersama dan kita tangani utamanya para penderita, para pasien,” ujar Adhitia.
Isu ini menjadi fenomenal, karena terjadi di bulan Ramadan, ketika pola konsumsi masyarakat berubah. Distribusi makanan dilakukan pada pagi hari, sementara sebagian besar penerima baru mengonsumsinya saat waktu berbuka.
Kondisi tersebut dinilai meningkatkan risiko penurunan kualitas makanan, terutama jika tidak memenuhi standar penyimpanan dan penyajian.
Baca Juga:MTP dan Kodim 0618/Kota Bandung Gelar Pangan Murah untuk Bantu Masyarakat Memenuhi Kebutuhan PokokSundown Feast Iftar di Kimaya Braga Bandung by HARRIS, Sensasi Buka Puasa Arabic Modern dengan Sentuhan Wester
Menanggapi hal itu, Adhitia menegaskan pengawasan MBG ke depan tidak boleh bersifat administratif semata, melainkan harus berangkat dari standar teknis yang ketat dan dapat diawasi lintas sektor.
