JABAR EKSPRES – Pemerintah Kota (Pemkot) Banjar bersama PLN Indonesia Power dan PT Sucofindo tengah menyiapkan pembangunan proyek strategis di bidang energi terbarukan. Wali Kota Banjar, Sudarsono, memastikan rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 Mega Watt (MW) di wilayahnya.
Kepastian tersebut disampaikan usai pertemuan yang digelar di Pendopo Kota Banjar awal pekan ini. Proyek dengan nilai investasi fantastis hingga Rp1,5 triliun ini, akan dibangun di kawasan Perkebunan Mandalare, Kecamatan Pataruman.
Wali Kota Sudarsono menjelaskan, pembangkit listrik tenaga surya ini membutuhkan lahan seluas kurang lebih 134 hektare. Lahan yang digunakan merupakan aset perkebunan milik pemerintah, sehingga dipastikan tidak akan mengganggu lahan milik warga.
Baca Juga:Disentil Gubernur Soal Estetika Ruangan, Ketua DPRD Banjar: Itu Masukan Positif Akan Kami BenahiSemarak Ramadan, Kodim Ciamis Gelar Lomba Marawis se-Kabupaten Ciamis dan Banjar
“Nilainya kurang lebih Rp 1,4 sampai 1,5 triliun, itu nanti lokasinya di Mandalare. Untuk lahan insya Allah aman, tidak akan mengganggu lahan warga,” ujar Sudarsono, Selasa (24/2/2026).
Ia menambahkan, proses persiapan proyek saat ini sudah memasuki tahap pengurusan perizinan dan kajian lingkungan. Pihak Indonesia Power, kata dia, sudah melakukan studi kelayakan (feasibility study) sejak tahun 2023.
“Pihak Indonesia Power juga sudah melakukan studi kelayakan sejak tahun 2023 mereka hadir di sini. Pelaksanaan pembangunan fisik bukan tahun ini, karena butuh proses persiapan kajian dan sebagainya. Itu membutuhkan waktu lebih dari satu tahun,” jelasnya.
Ia berharap kehadiran PLTS ini tak hanya memenuhi kebutuhan energi, tetapi juga membuka lapangan kerja baru dan mendongkrak iklim investasi di Kota Banjar.
Sementara itu, Imam Tri Sulistyo dari divisi pengembangan bisnis Indonesia Power memaparkan sejumlah keuntungan dari proyek tersebut. PLTS ini akan menjadi sumber energi bersih karena tidak menghasilkan emisi karbon, berbeda dengan pembangkit listrik berbahan bakar batubara.
Listrik yang dihasilkan akan diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Kota Banjar melalui Gardu Induk Banjar yang berjarak sekitar 8 kilometer dari lokasi proyek. Jika ada kelebihan, pasokan listrik akan dialirkan ke jaringan Jawa-Bali.
Dari sisi ketenagakerjaan, proyek ini diharapkan mampu menyerap banyak tenaga kerja lokal. Pada masa konstruksi yang diperkirakan berlangsung 1 hingga 1,5 tahun, akan melibatkan 300 hingga 500 pekerja. Sebanyak 60 hingga 70 persen dari jumlah tersebut diutamakan bagi masyarakat sekitar.
