Dari Kutukan Menuju Harapan: Saatnya Akhiri Stigma Kusta

Stigma Kusta
Hari Kusta Sedunia. (FOTO ILUSTRASI)
0 Komentar

Di tengah kemajuan medis yang kian pesat, ada satu penyakit di Indonesia yang seolah terlupakan namun terus menyeruak, yaitu kusta-infeksi bakteri yang sebenarnya dapat disembuhkan sepenuhnya bila ditangani secara dini dan tepat.

FATHOR RAHMAN, Bandung, Jabar Ekspres

PENYAKIT yang dulu disebut “penyakit kutukan” sebenarnya adalah infeksi bakteri Mycobacterium leprae yang dapat disembuhkan sepenuhnya. Namun, stigma yang mengakar kuat membuat penderita menyembunyikan gejala hingga cacat permanen tak terhindarkan. Kusta bukan hanya soal tubuh yang rusak, tapi juga jiwa yang terluka oleh penolakan masyarakat.

“Penyakit kusta itu dapat disembuhkan secara tuntas dengan pengobatan,” tegas Neti Juniarti, S.Kp., M.Kes., MNurs., Ph.D., Ketua Ikatan Perawat Kesehatan Komunitas Indonesia Wilayah Jawa Barat, kepada Jabar Ekspres, Senin (23/2/2026).

Baca Juga:Gotong Royong Ramadan: Jalan 1.500 Meter di Cipelah Dikejar Tuntas Perjanjian Dagang Indonesia–AS: Antara Peluang Ekonomi dan Ancaman Kedaulatan

Neti Juniarti, yang juga Wakil Ketua Bidang Pelayanan DPW Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Barat serta dosen di Departemen Keperawatan Komunitas Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran (Unpad), mengungkapkan data terbaru kasus kusta dari Kementerian Kesehatan RI. Kata dia, tren penyakit kusta menunjukkan kasus yang mengkhawatirkan. Pada 2024, Indonesia mencatat 14.698 kasus baru, naik dari 14.376 kasus di 2023 dan 12.441 kasus di 2022.

Lebih dari 90 persen kasus merupakan tipe multibasiler (MB) yang lebih menular, dengan sekitar 9,7 persen kasus pada anak-anak dan 5,9 persen disertai disabilitas. Meski pandemi sempat menekan angka penemuan kasus, kini lonjakan pasca-pandemi terlihat jelas.

Secara global, Indonesia masih berada di peringkat ketiga setelah India dan Brasil. Di tingkat provinsi, Neti-akrab disapa-mengungkapkan data dari Kementerian Kesehatan RI bahwa wilayah Indonesia timur seperti Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tenggara, dan Papua mendominasi kasus tertinggi. Namun, Jawa Barat tak luput dari ancaman ini.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat, angka penemuan kasus kusta baru di Jawa Barat mencapai 3,37 per 100.000 penduduk pada 2024. Kabupaten Indramayu menjadi episentrum dengan 14,98 per 100.000 penduduk-angka yang mencolok di daerah pertanian padat penduduk ini, di mana akses layanan kesehatan sering terhambat oleh jarak dan rendahnya kesadaran masyarakat.

0 Komentar