JABAR EKSPRES – Irigasi Ciramajaya merupakan penopang utama yang mengairi ribuan hektare lahan pesawahan sejumlah desa di Kecamatan Mangunreja, Tanjungjaya dan Kecamatan Sukaraja.
Namun sayang, sekira 16 tahun terakhir kondisi saluran irigasi tak berfungsi optimal akibat berbagai faktor.
Mengetahui langsung kondisi irigasi Ciramajaya yang tak berfungsi optimal itu, Wakil Bupati Tasikmalaya, Asep Sopari Al Ayubi, mengaku prihatin. Irigasi yang tak berfungsi telah mengakibatkan hilangnya potensi pertanian di wilayah tersebut.
Baca Juga:Pinjam Rp230,25 Miliar, Pemkab Tasikmalaya Segera Perbaiki Jalan RusakAngka Anak Putus Sekolah di Kabupaten Tasikmalaya Masih Tinggi, DPRD Ajak Cari Solusi
Apalagi persoalan irigasi Ciramajaya bukanlah barang baru. Sejak tahun 2010, lahan di kawasan ini telah disiapkan untuk menjadi sawah produktif. Bahkan sekitar lima tahun lalu, Pemkab Tasikmalaya pernah berjanji akan melakukan rehab tuntas, namun hingga tahun 2026 tidak terrealisasi.
“Ini masalah kemanfaatan. Ada fasilitas negara yang kita abaikan,” ujar Asep Sopari, saat melakukan inspeksi mendadak ke lokasi Irigasi Ciramajaya yang berada di Desa Cibalanarik, Kecamatan Tanjungjaya, belum lama ini.
Didampingi tokoh masyarakat, Camat Tanjungjaya, dan perwakilan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Dinas Sumber Daya Air (SDA) Provinsi Jawa Barat, Wabup Asep menyaksikan langsung pintu-pintu air yang berkarat dan menganggur tanpa setetes air pun.
Asep juga menyentil slogan “Rehab Tuntas” yang sempat dijanjikan lima tahun lalu oleh pemerintahan sebelumnya.
“Saya malu sama masyarakat. Janji itu harus ditepati. Jangan sampai slogan ‘Rehab Tuntas’ itu hanya omon-omon saja. Pak Prabowo bilang jangan omon-omon, harus dikerjakan!”, cetusnya.
Diketahui, irigasi Ciramajaya memiliki panjang total 16 kilometer, membentang dari hulu di Kecamatan Mangunreja, melewati Tanjungjaya, hingga berujung di Kecamatan Sukaraja. Namun, saat ini air hanya mampu mengalir sejauh 10 kilometer.
Masalah utama yang teridentifikasi adalah debit air yang kurang, sistem gilir air yang diterapkan saat ini dianggap tidak efektif karena volume air dari hulu memang sudah tidak mencukupi.
Baca Juga:Jadi Percontohan Nasional, Jateng Dinilai Paling Progresif Terapkan Ekosistem HalalAhmad Luthfi Dampingi Prabowo Kunjungi Sekolah di Cilacap, Para Siswa Respons Positif Program MBG
Kemudian terjadi sumbatan di aliran sungai dan perlu adanya normalisasi total dari hulu hingga hilir agar air dapat mengalir lancar. Potensi yang terbuang saat ini terdapat sekitar 400 hingga 500 hektare lahan sawah yang belum teraliri air.
Pemkab Tasikmalaya kini tengah berupaya melobi Pemerintah Pusat dan Provinsi. Rencananya, revitalisasi irigasi ini akan diajukan melalui Instruksi Presiden (Inpres) mengenai revitalisasi irigasi tahun ini.
