Menunggu Buka Puasa Lewat Seni, Ruang Riung Hadirkan Workshop Ramadan Bagi Anak Muda Cimahi

Menunggu Buka Puasa Lewat Seni, Ruang Riung Hadirkan Workshop Ramadan Bagi Anak Muda Cimahi
Seniman asal Cimahi sekaligus lulusan Institut Seni Budaya Indonesia Bandung, Desyifa Sumelian (Mong)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Di tengah rutinitas Ramadan yang kerap diisi dengan aktivitas yang padat dan penuh kesibukan, sebagian warga memilih menghabiskan waktu menjelang berbuka puasa lewat jalur berbeda, berkegiatan kreatif. Di Cimahi, workshop lukis gipsum bertema Ramadan menjadi ruang alternatif untuk menyalurkan ekspresi sekaligus merawat produktivitas selama puasa.

Kegiatan tersebut digagas oleh Komunitas Ruang Riung Cimahi dan menghadirkan seniman asal Cimahi sekaligus lulusan Institut Seni Budaya Indonesia Bandung, Desyifa Sumelian sebagai narasumber. Workshop berlangsung di Kangen Kopi Cihanjuang, Senin (23/2/26), dan dikemas sebagai kegiatan ngabuburit yang bersifat partisipatif.

Alih-alih sekadar menunggu waktu berbuka, peserta diajak terlibat langsung dalam proses kreatif melalui media lukis nonkonvensional. Workshop ini dirancang untuk menjadi ruang yang inklusif, menyenangkan, sekaligus edukatif.

Baca Juga:Bazar Takjil-Workshop hingga Pameran Sejarah Ramaikan Ramadan Creative Day CimahiDamkar Petakan Titik Rawan, Permukiman Padat di Cimahi Rentan Kebakaran

“Sebetulnya workshop kali ini dalam rangka ngabuburit dengan tema Ramadan. Peserta diminta melukis di media keramik, namun untuk praktiknya kami menggunakan gipsum. Meski temanya Ramadan, peserta tetap bebas mengeksplorasi ide dan gaya masing-masing,” ujar Desyifa.

Panitia menyiapkan seluruh perlengkapan, mulai dari media gipsum, cat akrilik, kuas, brush, hingga pernis sebagai tahap akhir. Proses finishing dengan pernis menjadi elemen penting agar karya memiliki tampilan lebih hidup sekaligus daya tahan lebih baik.

Bagi Desyifa, kegiatan ini tidak hanya berfungsi sebagai pengisi waktu luang. Workshop seni juga memiliki dimensi terapeutik, terutama dalam konteks puasa yang kerap memicu kejenuhan.

“Selain untuk eksplorasi diri dan menuangkan emosi, kegiatan ini juga supaya puasa tidak terasa jenuh. Karena konsepnya ngabuburit, jadi waktu berbuka terasa lebih cepat,” tambahnya.

Peserta yang hadir berasal dari latar usia yang beragam, mulai dari anak-anak di bawah 17 tahun, mahasiswa, hingga peserta berusia di atas 50 tahun. Keberagaman ini menunjukkan bahwa aktivitas seni rupa bersifat lintas generasi dan dapat diakses oleh siapa pun.

Menurut Desyifa, workshop semacam ini juga memiliki nilai edukatif yang kuat, terutama bagi anak-anak. Proses melukis dan mengolah media dinilai efektif untuk melatih motorik halus, meningkatkan koordinasi tangan, serta menumbuhkan rasa percaya diri melalui karya yang dihasilkan.

0 Komentar