Adapun syarat untuk menjadi warisan budaya tak benda UNESCO tidak harus melalui koleksi fisik. Menurutnya, yang dinilai adalah nilai filosofis dan literasi yang menyertainya.
Dalam warisan tak benda, terdapat makna, kearifan, serta kajian yang menjadi bagian dari literasi budaya tersebut.
“Semua kelengkapan sudah kami penuhi. Artinya kami membangun komunitas, mendata kembali para pelestari. Penempa-penempa golok sekarang sudah generasi ke-9, ada yang ke-7. Artinya warisan dari nenek moyang itu terus dilanjutkan. Jadi pelestarian ini berlanjut sampai generasi muda sekarang,” ucapnya.
Baca Juga:BULOG Kancab Bandung Gelar Gerakan Pangan Murah Jelang Ramadhan, Stok Dipastikan AmanPA Kota Cimahi Bahas Kesejahteraan Yudisial dalam Diskusi Internasional BPHPI–FCFCOA
Dalam pameran kali ini, sekitar 300 golok terbaik dari berbagai masa dipamerkan. Beberapa di antaranya disebut berasal dari era tahun 800, masa Singosari dan Panjuruan, serta masa Demak sekitar tahun 1600.
Melalui pameran dan sarasehan budaya ini, dukungan akademik dari Unpak Fakultas ISIB diharapkan memperkuat langkah golok menuju pengakuan sebagai warisan budaya tak benda UNESCO. (kar)
