Lebih lanjut, terdapat simbol dari material bata merah yang menandakan membumi, kejujuran, kerja nyata, dan kekuatan lahir dari tanag sendiri.
Untuk ornamen sunda seperti sulur dan ukiran sebagai lambang kesinambungan generasi, hidup yang tumbuh, bukan beku. Nilai adat yang menyesuaikan zaman tanpa menghilangkan jati diri.
Kemudian, terdapat lambang Kabupaten Bogor yang berada pada tengah gapura yang bermakna, pemerintah sebagai pengayom dan bukan penguasa sewenang-wenang.
Baca Juga:Jalan Bomang 100 Persen Sudah Rampung, Pemkab Bogor: Lanjut Bangun Jembatan Situ Nanggerang!6 Tahun Terbengkalai, Gedung SDN 02 Sasanawiyata Rusak Parah: DPRD Desak Pemkab Bogor Bangun Baru
“Kekuasaan harus berada di tengah, adil, tidak condong ke satu kepentingan,” ujarnya.
Yudi mengungkapkan, jika seluruh unsur disatukan bermakna Kuta Udaya Wangsa yang diartikan sebagai gerbang pusat kebangkitan peradaban Bogor.
“Tempat di mana, kebijakan lahir dari nilai, kekuasaan tunduk pada etika, dan pembangunan berakar pada budaya. Dalam bahasa Sunda filosofi; Gerbang ieu lain ukur lawang dayeuh, tapi lawang kana darajat rahayat,” jelasnya.
“Kesimpulan Filosofis. Gerbang ini melambangkan, Identitas Sunda Bogor, keberlanjutan Pajajaran secara nilai, bukan bentuk politik, cita-cita pemerintahan berbudaya (culture-based governance). Selaras dengan nilai: Cageur – Bageur – Bener – Pinter – Singer,” sambung Yudi.
