“Di Cimahi ada satu Pura, kita kasihkan, kita kumpulkan untuk bagaimana bergerak, bermitigasi pada rumah ibadahnya masing-masing apabila terjadi gempa dan lain sebagainya,” imbuhnya.
Selain itu, BPBD Cimahi juga melibatkan ibu rumah tangga sebagai katalisator rumah tangga dalam kesiapsiagaan bencana.
“Karena yang sehari-hari di rumah mengenali bentuk rumahnya, mengenali bentuk bagaimana cara evakuasi adalah ibu-ibu,” tutur Fithriandy.
Baca Juga:Strategi Gubernur Ahmad Luthfi Turut Sukseskan Program Prioritas Presiden Ramai Soal Reshuffle Kabinet Prabowo Siang Ini, Nama Juda Agung Menguat untuk Posisi Wamenkeu
Terkait sejauh mana pemahaman warga terhadap mitigasi bencana, Fithriandy menegaskan bahwa BPBD memiliki indikator resmi sebagai alat ukur.
“Ya, kalau secara resmi tolak ukur indikator yang kita pakai itu dua, ditetapkan oleh ya katakanlah atasan kami, pusat kami, itu Indeks Ketahanan Daerah (IKD) kemudian ada Indeks Risiko Bencana,” ujar Fithriandy.
Indeks Ketahanan Daerah itu, kata Fithriandy ada berbagai masukan yang telah pihaknya rangkum, kemudian di ukur. Salah satunya itu adalah jumlah masyarakat Cimahi yang sudah pernah diundang untuk sosialisasi di sekolah-sekolah.
“Kemudian jumlah berapa masyarakat umur di atas 60 tahun yang sudah kita undang untuk melaksanakan atau menerima sosialisasi,” sambung Fithriandy menutup. (Mong)
