JABAR EKSPRES – Sebuah rumah bilik berwarna biru milik warga Dusun Linggamanik, Desa Panyingkiran, Kecamatan Ciamis, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, dalam kondisi memprihatinkan dan nyaris runtuh.
Rumah milik Aan, seorang penjual balon keliling, itu belum mendapat bantuan perbaikan selama hampir lima tahun lebih.
Kondisi rumah di RT2 RW7 itu sangat menghawatirkan dengan struktur kayu yang sudah patah-patah, membuat penghuninya khawatir akan rubuh setiap saat. Aan mengaku telah berulang kali meminta bantuan perbaikan, namun tidak kunjung mendapat respons.
Baca Juga:Strategi Gubernur Ahmad Luthfi Turut Sukseskan Program Prioritas Presiden Ramai Soal Reshuffle Kabinet Prabowo Siang Ini, Nama Juda Agung Menguat untuk Posisi Wamenkeu
“Saya sudah minta bantuan. Gak apa-apa bantuan atapnya saja, soalnya kayu-kayunya sudah patah,” kata Aan.
Ia mengungkapkan keterbatasan ekonominya sebagai penghalang untuk memperbaiki rumah secara mandiri. “Kalau pakai biaya sendiri tidak mampu,” tambahnya.
Aan berharap pemerintah desa maupun Pemkab Ciamis segera turun tangan memberikan bantuan untuk memprbaiki rumahnya yang sudah tidak layak huni.
Pengakuan serupa datang dari ketua RT setempat, Mugni. Ia menegaskan bahwa upaya pengusulan bantuan untuk rumah Aan telah dilakukan sebanyak dua kali ke pemerintah desa selama empat tahun ia menjabat.
Namun, dari pengajuan tersebut, tidak pernah ada realisasi bantuan yang turun. “Sudah dua kali diusulkan, selama saya empat tahun menjadi ketua RT belum ada bantuan juga untuk rehab rumah pak Aan,” ujar Mugni, saat dikonfirmasi Minggu (8/2/2026).
Tidak hanya ke pemerintah desa, upaya penyaluran bantuan juga telah dicoba melalui jalur lembaga zakat. Menurut Mugni, pengusulan ke Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Ciamis melalui Unit Pengumpul Zakat (UPZ) setempat juga tidak membuahkan hasil.
Hingga saat ini, bantuan untuk perbaikan rumah Aan dikatakan belum pernah ada sama sekali.
Baca Juga:Layvin Kurzawa, Jawaban Persib di Fase Paling MenentukanDion Markx Jadi Simbol Regenerasi Persib Bandung
Rumah Aan yang secara kasat mata sudah dalam kondisi darurat tetap tak tersentuh program bantuan, baik dari jalur pemerintah maupun filantropi, meski telah diusulkan secara resmi oleh perangkat RT.
Keadaan ini membuat Aan terus hidup dalam kecemasan, menunggu hari dimana bantuan itu akhirnya datang atau justru saat rumah biliknya benar-benar ambruk. “Pihak berwenang di tingkat desa dan kabupaten diharapkan segera menindaklanjuti laporan ini untuk mencegah terjadinya musibah yang tidak diinginkan,” katanya. (CEP)
