JABAR EKSPRES – Dinas Kehutanan (Dishut) menyiapkan sejumlah program untuk menjaga kelestarian hutan di Jawa Barat. Mulai dari Jaga Leuweung hingga program Awi.
Kepala Dishut Jabar Dodit Ardian Pancapana menuturkan beberapa program itu di hadapan Komisi II DPRD Jabar, Kamis (29/1). Program Jaga Leuweung diluncurkan dalam upaya menjaga hutan – hutan di Jawa Barat.
Konsepnya adalah melibatkan masyarakat untuk bereperan menjaga dan merawat hutan. Sebagai mana arahan Gubernur. “Prinsipnya jaga hutan dan jaga tatangkalan, ” katanya.
Baca Juga:English 1 Resmi Membuka Center Baru di Bandung SummareconGubernur Ahmad Luthfi Minta Percepat Pemulihan Pascabencana di Pemalang
Program itu tidak gratis. Artinya masyarakat setempat yang dilibatkan bisa diberi honor atau upah. Rencananya, besaran upah itu bisa Rp 1,5 juta per bulan bila mencapai 20 hari kerja.
Mereka bertugas menanam pohon dan merawat minimal 2 hektar lahan. Total, Dishut punya alokasi anggaran Rp 17 miliar.
Dengan modal anggaran itu harapannya, bisa untuk rehabilitasi hutan dan lahan tapak sekitar 1.800 hektar. Dan perlindungan kawasan hutan seluas Rp 4.500 hektar.
Selain itu, Dishut juga bakal meluncurkan Program Awi. Itu sebagai salah satu upaya menjaga komoditas awi atau bambu di Jawa Barat.
Bambu merupakan tumbuhan yang banyak manfaatnya. Mulai dari fungsi menjaga kelestarian alam hingga bisa dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Misalnya untuk aneka kerajinan, hingga dibuat angklung yang merupakan alat musik tradisional khas Sunda.
Rencananya program itu akan menyasar beberapa titik. Pertama adalah Desa Mekarsari. Di situ ada lahan sekitar 7 hektar. Itu bakal ditanami 1.250 batang bibit bambu. Bambunya jenis betung, tapi dan haur.
Kemudian ada juga di Kabupaten dan Kota Tasikmalaya. Menyasar 1 hektar lahan. Setidaknya bakal ditanami 550 batang bibit. (Son)
