Ribuan Ikan KJA di Waduk Saguling Mati Mendadak, Petani Terancam Rugi Besar

Ribuan ikan di KJA Perairan Waduk Saguling, Bandung Barat mati massal/Dok istimewa
Ribuan ikan di KJA Perairan Waduk Saguling, Bandung Barat mati massal. Dok istimewa
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Ribuan ikan di Keramba Jaring Apung (KJA) Waduk Saguling, Kabupaten Bandung Barat (KBB), mati secara mendadak dalam beberapa hari terakhir.

Fenomena tersebut tidak hanya terjadi di Waduk Saguling, tetapi juga melanda Waduk Cirata dan Waduk Jatiluhur. Kematian ikan secara serentak mengganggu aktivitas budidaya ikan di perairan umum. Sejumlah petani pun terpaksa memanen lebih awal serta mengangkat bangkai ikan dari keramba guna mencegah pencemaran perairan.

Salah seorang petani KJA Waduk Saguling, Agus Suherman, mengatakan kematian ikan mulai meningkat signifikan sejak Minggu (25/1/2026). Menurutnya, hampir seluruh petani KJA di perairan tersebut terdampak kejadian ini.

Baca Juga:Ramai Soal Reshuffle Kabinet Prabowo Siang Ini, Nama Juda Agung Menguat untuk Posisi WamenkeuLayvin Kurzawa, Jawaban Persib di Fase Paling Menentukan

“Di Saguling, kematian ikan mulai parah sejak Minggu kemarin. Ikan di keramba mati hampir bersamaan. Kalau di Cirata dan Jatiluhur, informasinya sudah terjadi sejak minggu lalu,” kata Agus saat dihubungi, Rabu (28/1/2026).

Agus menjelaskan, kematian ikan merupakan siklus tahunan yang kerap terjadi di perairan waduk. Namun, kondisi pada awal 2026 dinilai jauh lebih parah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya akibat cuaca ekstrem yang berlangsung dalam beberapa pekan terakhir.

“Ini memang siklus tahunan, tapi biasanya tidak separah sekarang. Hujan terus dan kurang sinar matahari membuat kadar oksigen di air menurun, sehingga ikan tidak bisa bertahan,” ujarnya.

Ia menyebut, sekitar 90 persen ikan di keramba jaring apung Waduk Saguling mati akibat kondisi cuaca yang terjadi secara bersamaan. Tingkat kematian ikan di setiap KJA pun bervariasi, bergantung pada kepadatan kolam dan jumlah ikan yang ditebar.

“Ada KJA yang ikannya mati sampai 100 persen, ada juga 80 persen atau 70 persen. Itu tergantung kepadatan kolam. Semakin padat, potensi kematiannya semakin besar,” kata Agus.

Meski mengetahui adanya risiko siklus kematian ikan, Agus mengakui banyak petani tetap menebar benih karena pertimbangan ekonomi dan tingginya harga ikan di pasaran pada awal tahun.

“Petani sebenarnya sudah tahu risikonya, tapi tetap nekat menebar. Soalnya kalau punya ikan di Januari dan Februari, harga jualnya bagus,” ujarnya.

Baca Juga:Dion Markx Jadi Simbol Regenerasi Persib BandungDPRD KBB Fraksi PDI Perjuangan Kawal MBG Agar Berkualitas dan Tepat Sasaran

Menurut Agus, jumlah benih yang ditebar petani KJA berbeda-beda tergantung skala usaha. Petani kecil rata-rata menebar sekitar 5 kuintal benih, petani menengah sekitar 1 ton, sedangkan skala besar bisa mencapai 5 hingga 10 ton.

0 Komentar