JABAR EKSPRES – Pemerintah memastikan ketersediaan dan stabilitas harga pangan strategis tetap terjaga menjelang Ramadhan dan Idul Fitri 2026.
Dukungan stok yang melimpah, penguatan pengawasan harga, serta pengaturan distribusi dinilai menjadi faktor utama dalam menjaga daya beli masyarakat.
Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman menyatakan stok pangan nasional berada dalam kondisi aman, bahkan melebihi kebutuhan.
Baca Juga:Menkeu akan Sidak Pabrik Baja yang Mangkir Bayar Pajak, Potensi Kerugian Negara Tembus Triliunan Rupiah Pemerataan Industri Jamu Jadi Fokus, Komisi VII Dorong UMKM Daerah Naik Kelas
Hingga Januari 2026, stok beras nasional tercatat mencapai 3,3 juta ton atau tertinggi sepanjang sejarah. Sementara itu, cadangan minyak goreng yang dikelola Bulog mencapai sekitar 700 ribu ton.
Apabila ada pihak yang menjual di atas HET, Satgas Pangan akan turun tangan dan bila perlu melakukan penindakan.
Selain menjaga HET, ia juga mengatakan, komitmen pemerintah untuk memastikan harga pangan tetap sesuai dengan harga pokok penjualan (HPP), sehingga tercipta keadilan bagi produsen, pedagang, maupun konsumen.
Dengan stok yang mencukupi, Mentan mengatakan optimistis masyarakat dapat menjalani bulan suci Ramadhan dan Idul Firti dengan harga pangan yang stabil.
Di sisi lain, Ekonom Center of Economics and Law Studies (Celios) Nailul Huda menilai penyusunan dan pemanfaatan neraca komoditas menjadi kunci dalam upaya menstabilkan harga komoditas pangan strategis seperti beras dan minyak goreng menjelang momentum Ramadhan 2026.
“Penyusunan dan pemanfaatan neraca komoditas harus dimaksimalkan,” ujar Nailul dikutip dari ANTARA, Selasa (27/1/2026).
Menurutnya, tantangan utama dalam menjaga stabilitas harga komoditas adalah manajemen stok.
Baca Juga:Magang Nasional Dinilai Perkuat Kesiapan SDM Masuk Dunia KerjaTancap Gas! Indonesia Manfaatkan WEF Davos 2026 untuk Perkuat Posisi di Mata Investor Global
“Penyusunan neraca komoditas harus disesuaikan dengan rencana kebutuhan dan ketersediaan komoditas dari dalam negeri sehingga rencana impor itu bisa disiapkan. Untuk itu, data yang digunakan untuk perencanaan harus valid,” katanya.
Sementara itu, Kementerian Perdagangan (Kemendag) harga minyak goreng MinyaKita yang saat ini masih dijual di atas harga eceran tertinggi (HET), mengatakan harga MinyaKita akan turun seiring dengan penyaluran pasokan minyak goreng oleh BUMUN pangan.
Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag, Iqbal Shoffan Shofwan, menjelaskan bahwa harga MinyaKita akan turun seiring dengan penyaluran pasokan minyak goreng oleh BUMN pangan.
