Warga Terdampak di Kota Bogor Keluhkan Bantuan Sosial: Bencana Alam Tidak Memandang Desil

Warga Terdampak Bencana di Kota Bogor Keluhkan Bantuan Berbasis Desil Kesejahteraan
Salah satu warga terdampak bencana alam longsor di Kota Bogor. Foto: Sekar Andini/Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Warga korban bencana di wilayah Kota Bogor mengeluhkan kebijakan bantuan Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor yang masih berpatokan pada klasifikasi desil kesejahteraan (pengelompokan warga ke dalam 10 kelompok ekonomi).

Salah satu warga terdampak bencana longsor di Kampung Cipaku Skip, Kecamatan Bogor Selatan, pada Kamis dan Jumat, 22 dan 23 Januari 2026 lalu, Tri Yudiono (40), menilai sistem desil yang diterapkan tersebut justru menjadi penghambat bagi korban bencana alam untuk memperoleh bantuan perbaikan rumah.

Saat ini, warga yang masuk kategori desil 6 ke atas disebut tidak lagi berhak menerima bantuan, meski rumahnya mengalami kerusakan akibat bencana.

Baca Juga:Bagian Dapur Rumah di Cipaku Bogor Selatan Hancur, Warga: Tiga Kali Ditimpa Longsor Hujan Tak Kunjung Reda, Dua Titik Rawan di Kota Bogor Kembali Longsor

“Sekarang pemerintah itu masalahnya di desil, semua berpatokan ke desil. Kalau sudah di atas desil 6, enggak dapat bantuan, padahal bencana alam tidak memandang desil,” kata Tri, Senin (26/1/2026).

Tri menjelaskan, permohonan bantuan perbaikan rumah warga terdampak bencana saat ini dapat diajukan dalam skema Bantuan Sosial Tidak Terencana (BSTT). Namun, untuk penyaluran bantuan tersebut tetap berpatokan pada klasifikasi desil kesejahteraan.

Ia pun menilai, kebijakan bantuan berbasis desil tersebut cukup menyulitkan warga terdampak bencana alam yang tidak masuk dalam kategori ekonomi rendah, meski bergantung pada penghasilan yang tidak tetap.

Padahal, kata dia, bencana alam terjadi tanpa memandang kondisi sosial maupun ekonomi korban.

“Ini kan bencana alam, tidak memandang desil. Contohnya kakak saya hanya karyawan swasta, penghasilannya ngandelin penjualan dulu baru dapat gaji. Tapi karena masuk desil tertentu, jadi enggak dapat bantuan,” ujarnya.

Meski demikian, Tri bersama sejumlah warga Kota Bogor lainnya pun masih berharap Pemkot Bogor dapat menerapkan kebijakan bantuan yang lebih fleksibel bagi korban bencana.

“Harusnya bantuan itu menyeluruh. Namanya bencana, siapa sih yang mau? Kami juga enggak tahu kapan datangnya,” tuturnya.

0 Komentar