Bundaran Jati sendiri rampung dikerjakan pada akhir 2025 dengan nilai anggaran Rp2.243.187.675 yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kota Cimahi. Selain mempercantik wajah kota, keberadaan bundaran dan alutsista ini dinilai semakin mempertegas identitas Cimahi sebagai kota dengan sejarah militer yang kental.
Cimahi diketahui memiliki peran strategis dalam perjalanan sejarah kolonialisme Belanda, pendudukan Jepang, hingga masa perang kemerdekaan. Sejak era kolonial, wilayah ini memang difungsikan sebagai kawasan tangsi dan pusat pendidikan militer.
“Faktanya 30 persen memang di daerah historisnya seperti itu dari zaman Belanda, sudah seperti itu. Tapi bukan berarti ini kawasan militer, di titik lain ada (alutsista) yang berbeda tematiknya,” ujar Amy.
Baca Juga:Bundaran Jati Resmi Dibuka, Cimahi Kejar Janji Atasi Kemacetan dan BanjirPenataan Bundaran Jati Masuki Tahap Penyempurnaan
Selain aspek identitas kota, pembangunan Bundaran Jati juga diarahkan untuk mengurai kemacetan yang selama ini kerap terjadi, terutama pada jam sibuk pagi dan sore hari. Kawasan tersebut merupakan titik temu tiga ruas jalan dengan mobilitas kendaraan yang tinggi.
Berdasarkan data Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota Cimahi, pembangunan mencakup jalan baru sepanjang 45 meter dengan lebar 7 meter, pelebaran Jalan Daeng Ardiwinata hingga 8,5 meter, serta pelebaran Jalan Rd. Demang Hardjakusumah 1,5 meter.
Di lokasi tersebut juga dibangun drainase sepanjang 164 meter dengan dimensi 0,8 meter × 0,8 meter, trotoar dengan pasangan sandsetin seluas 258 meter persegi, serta desain pulau jalan berbentuk bundaran.
Kepala Bidang Lalu Lintas Dinas Perhubungan Kota Cimahi, M Nur Effendi, menyatakan bahwa selesainya pembangunan bundaran memberikan dampak langsung terhadap kelancaran arus kendaraan.
“Dengan adanya bundaran yang baru saja kontruksinya selesai dibangun itu tentu saja berdampak signifikan terhadap lalu lintas, jadi lebih lancar,” ujarnya. (Mong)
