Contoh Teks Khutbah Jumat Isra Miraj: Ujian dan Penghambaan hingga Anugerah Kemuliaan

Teks Khutbah Jumat
Teks khutbah Jumat tentang Isra Miraj. (Pixabay/chiplanay)
0 Komentar

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ

Artinya, “Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Isra’: 1).

Imam Ibnu Katsir menjelaskan dalam kitab Tafsir Al-Qur’anil Azhim, jilid 5, halaman 43, setiap ayat yang diawali dengan lafal tasbih (subahana) sebagaimana awal ayat ini, menjadi isyarat agung bahwa peristiwa yang akan diceritakan sesudahnya merupakan sesuatu yang sangat luar biasa dan melampaui nalar akal manusia.

Selain itu, Allah menyebut Nabi Muhammad dalam ayat ini dengan sebutan “abdihi” (hamba-Nya), bukan rasul-Nya atau nabi-Nya.

Baca Juga:10 Kode Redeem Free Fire 15 Januari 2026, Klaim Senjata Spesial dan Diamond Gratis Sebelum Kedaluwarsa!Gasto Avila Tidak Gabung Persib, Fix CLBK dengan Alberto Rodriguez?

Ini karena derajat penghambaan lebih tinggi dan lebih mulia daripada derajat kerasulan.

Sebab, status penghambaan itu muncul dari seorang hamba kepada Allah ta’ala, sementara status rasul muncul dari Allah dan ditunjukkan kepada hamba-Nya. Ibnu Katsir berkata:

مَقَامُ الْعُبُودِيَّةِ أَشْرَفُ مِنْ مَقَامِ الرِّسَالَةِ لِكَوْنِ الْعِبَادَةِ تَصْدُرُ مِنَ الْخَلْقِ إِلَى الْحَقِّ وَالرِّسَالَةِ مِنَ الْحَقِّ إِلَى الْخَلْقِ

Artinya, “Derajat penghambaan (ubudiyah) itu lebih mulia daripada derajat kerasulan (risalah), karena ibadah muncul dari makhluk kepada Allah (Al-Haq), sedangkan risalah itu dari Allah kepada makhluk.”

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Peristiwa Isra Mi’raj merupakan perjalanan spiritual yang penuh hikmah di dalamnya.

Namun mari kita renungkan bersama, bahwa sebelum Allah memperjalankan rasul-Nya ini, terdapat berbagai bentuk ujian dan penderitaan yang sangat berat dari kaum Quraisy yang datang menghampiri Rasulullah.

Cacian, penolakan, dan kekerasan terus ada dalam perjalanan dakwahnya.

Bahkan, salah satu ujian yang paling menyakitkan adalah ketika beliau pergi ke Thaif dengan harapan akan mendapatkan sambutan dan dukungan, namun justru diusir dan dilempari batu, hingga tubuhnya terluka dan berdarah.

Tidak hanya itu, kesedihan Rasulullah semakin bertambah ketika pamannya yang bernama Abu Thalib yang senantiasa mendukung dan melindunginya dari gangguan kaum Quraisy wafat.

Baca Juga:Peta Kekuatan Ratchaburi FC, Lawan Persib di 16 Besar ACL Two25 Kode Redeem FC Mobile 15 Januari 2026, Ada Paket Pemain OVR Tinggi dan Ribuan Gems Gratis!

Selang dua bulan kemudian, istri tercintanya yang bernama Khadijah juga berpulang ke Rahmatullah.

Dalam kondisi yang sangat lemah itu, Rasulullah kemudian menampakkan puncak penghambaan dirinya kepada Allah, dengan berdoa penuh kerendahan hati, mengadukan kelemahan dirinya, memohon pertolongan, dan menyerahkan sepenuhnya keadaan beliau kepada Allah SWT.

0 Komentar