Di lokasi kunjungan, SMKN 2 Kota Banjar, Komisi V menemukan sejumlah pekerjaan rumah (PR) mendesak yang memerlukan perhatian ekstra.
Dua masalah utama yang teridentifikasi adalah krisis ruang belajar akibat kurangnya ruang kelas yang memadai untuk menampung jumlah siswa, serta defisit tenaga pengajar yang ideal untuk mendukung implementasi kurikulum Pusat Unggulan secara maksimal.
Menyikapi temuan ini, Aceng Malki mendesak adanya perbaikan fundamental dalam pola komunikasi dan koordinasi antar lembaga. Sinergi yang kuat dan alur informasi yang lancar antara Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, Kantor Cabang Dinas (KCD), hingga pimpinan sekolah di tingkat akar rumput dinilai sebagai harga mati.
Baca Juga:Persib Hampir Full Team, Maung Bandung Siap Menggila di El Clasico IndonesiaBukan Sekadar Tiga Poin, Marc Klok Tegaskan Duel Persib vs Persija Soal Harga Diri Kota
Tanpa hal tersebut, masalah diperkirakan akan terus berlarut-larut dan menghambat tujuan peningkatan kualitas pendidikan vokasi.
“Harus ada komunikasi yang bagus. Sinergi kuat adalah kunci supaya masalah pendidikan, khususnya di SMK Pusat Unggulan ini bisa cepat teratasi,” pungkasnya. (CEP)
