JABAR EKSPRES – Lebih dari 500 kelompok Buruan SAE (Sehat, Alami, dan Ekonomis) di Kota Bandung menyatakan kesiapan untuk mendukung pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah pusat. Dukungan tersebut difokuskan pada penyediaan bahan pangan segar, khususnya sayur-mayur, yang akan digunakan oleh dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung, Gin Gin Ginanjar, mengatakan bahwa meskipun Kota Bandung tidak memiliki lahan pertanian luas seperti daerah agraris lainnya, potensi pangan lokal tetap sangat besar jika dikelola secara optimal. Salah satu kekuatan tersebut terletak pada keberadaan ratusan kelompok Buruan SAE yang tersebar di berbagai wilayah kota.
“Kota Bandung memang bukan daerah pertanian dalam arti luas. Tapi kita punya Buruan SAE yang jumlahnya lebih dari 500 kelompok. Walaupun skalanya kecil-kecil, kalau digabungkan, ini menjadi kekuatan besar. Saya sudah memperkirakan, kebutuhan dapur SPPG, khususnya untuk sayuran, sebenarnya bisa dipenuhi dari Buruan SAE, selama peluang dan mekanismenya dibuka,” ujar Gin Gin, Minggu, 11 Januari 2026.
Baca Juga:Lapas Banjar Darurat Dokter, Pemkot Siapkan Bantuan SementaraPemkab Bogor Wacanakan Ruislag Aset dengan Pemprov Jabar
Menurutnya, konsep Buruan SAE yang memanfaatkan lahan terbatas di lingkungan permukiman sangat sejalan dengan semangat Program MBG, yakni memastikan ketersediaan pangan sehat, segar, dan berkelanjutan bagi masyarakat, khususnya anak-anak dan kelompok rentan. Selain itu, keterlibatan Buruan SAE juga dinilai mampu memperkuat ekonomi lokal dan ketahanan pangan perkotaan.
Gin Gin menjelaskan, selama ini kapasitas produksi kelompok Buruan SAE memang terlihat terbatas, baik dari sisi volume maupun ragam komoditas. Namun, keterbatasan tersebut bukan karena kemampuan kelompok yang rendah, melainkan akibat belum adanya kepastian pasar atau pihak yang secara berkelanjutan menyerap hasil panen mereka.
“Selama ini produksi terbatas, termasuk jenis tanamannya. Bukan karena kelompoknya tidak mampu, tapi karena belum jelas siapa yang membeli dan menampung hasilnya. Kalau nanti program MBG ini membuka kebutuhan yang jelas, misalnya sayuran apa, volumenya berapa, dan jadwalnya seperti apa, maka lebih dari 500 kelompok Buruan SAE ini siap mensupport,” katanya.
Ia menambahkan, dengan adanya kepastian permintaan dari dapur SPPG, kelompok Buruan SAE dapat menyesuaikan pola tanam, meningkatkan kapasitas produksi, serta mengatur distribusi secara lebih terencana. Hal ini diharapkan tidak hanya membantu kelancaran program MBG, tetapi juga memberikan kepastian pendapatan bagi para pengelola Buruan SAE.
