Upaya penagihan dilakukan bertahun-tahun tanpa hasil. Harapan yang muncul pada 1972 pun kandas.
“Kami tidak dapat satu sen pun. Kami miskin karena piutang, bukan karena utang,” katanya dengan mata berkaca-kaca.
Luka keluarga kian dalam ketika ayah Thea meninggal pada 1969. Sejak itu, sang ibu menjadi tulang punggung keluarga sekaligus penjaga Hotel Tjimahi.
Baca Juga:Lapas Banjar Darurat Dokter, Pemkot Siapkan Bantuan SementaraPemkab Bogor Wacanakan Ruislag Aset dengan Pemprov Jabar
“Saya tidak pernah lihat ibu saya menangis. Tapi hari itu, ibu diam dan menangis,” ucapnya lirih.
Kini, setelah lebih dari 50 tahun, persoalan piutang itu tak pernah menemukan ujung.
“Dipunahkeun we nya. Sudah lebih dari 50 tahun,” katanya pasrah.
Sempat muncul harapan ketika investor ingin mengembangkan Hotel Tjimahi menjadi hotel heritage internasional. Namun rencana itu kandas karena usia pemilik dan ketiadaan generasi penerus.
“Siapa yang mau mengurus? Sudah tidak ada,” kata Thea.
Akhirnya, keputusan melepas Hotel Tjimahi pun diambil. Bagi Thea, ini bukan semata soal bisnis, melainkan penutup perjalanan panjang keluarga yang hampir satu abad menjaga sepotong sejarah di Kota Cimahi.
“Saya sangat terbuka, dalam bentuk apa pun, kalau memang bisa membantu,” ujarnya.
Baca Juga:Relawan PNM Kembali Turun Langsung Salurkan Bantuan dan Kuatkan Korban BencanaDe Braga by ARTOTEL Resmi Perkenalkan General Manager Baru dan Raih Sertifikasi GSTC
Ia berharap kisah Hotel Tjimahi dapat sampai ke telinga para pemangku kebijakan, baik daerah maupun nasional.
“Saya berharap bisa sampai ke Pak SBY, Pak AHY, juga Pak Ngatiyana dan Pak Adhitia,” tuturnya.
Di balik dinding tua Hotel Tjimahi, tersimpan kisah kejayaan, air mata, kesabaran, dan harapan yang tak pernah padam. Sebuah sejarah yang nyaris terlupakan, namun layak dikenang oleh generasi hari ini dan masa depan. (Mong)
