“Ini bagian dari Jalan Anyer–Panarukan. Jalurnya lurus dari barat ke timur,” jelas Thea.
Kini jalan tersebut dikenal sebagai Jalan Jenderal Amir Machmud, yang sebelumnya bernama Jalan Raya Cimahi.
“Dulu namanya Jalan Raya nomor 11M, Blok M Cimahi, bukan Blok M Jakarta,” tuturnya sembari tersenyum.
Baca Juga:Lapas Banjar Darurat Dokter, Pemkot Siapkan Bantuan SementaraPemkab Bogor Wacanakan Ruislag Aset dengan Pemprov Jabar
Meski berasal dari Purwakarta, Nyi Raden Fatimah menetap di Cimahi setelah menikah. Awalnya, bangunan tersebut merupakan vila pribadi keluarga dengan halaman luas dan puluhan anjing peliharaan.
“Awalnya itu vila nenek saya. Anjingnya sampai 24 ekor. Kalau kasih makan, ditaruh di empat penjuru,” ceritanya.
Secara administratif, izin resmi Hotel Tjimahi tercatat pada 19 Februari 1953. Namun jauh sebelum itu, bangunan tersebut telah difungsikan sebagai pension sejak 1927.
“Bangunan ini sudah beroperasi sebagai pension sejak 1927,” ujar Thea.
Pada 1932, penginapan ini telah memiliki empat kamar aktif. Seiring waktu, Wisma Pension berkembang dan resmi berganti nama menjadi Hotel Tjimahi pada 1953. Hotel ini kemudian menjadi tempat singgah favorit warga Belanda.
Memasuki era 1950-an, fungsi hotel mulai bergeser. Bangunan tersebut banyak ditempati kalangan militer beserta keluarganya.
“Sekitar tahun 50-an, hotel ini sudah ditempati tentara. Termasuk keluarga Jenderal Sarwo Edhie. Rumah beliau ada di belakang. Ayahnya Bu Ani,” ungkap Thea.
Baca Juga:Relawan PNM Kembali Turun Langsung Salurkan Bantuan dan Kuatkan Korban BencanaDe Braga by ARTOTEL Resmi Perkenalkan General Manager Baru dan Raih Sertifikasi GSTC
Bahkan, almarhumah Ani Yudhoyono disebut memiliki dua kamar di Hotel Tjimahi. Okupansi hotel saat itu nyaris penuh, mencapai sekitar 90 persen.
“Di depan ada lima kamar untuk tamu harian. Bagian belakang penuh oleh tentara,” katanya.
Namun kejayaan itu runtuh pasca-1965. Pergantian pemerintahan membawa dampak besar. Bangunan yang digunakan institusi negara tidak lagi dibayar, meninggalkan piutang besar yang tak pernah terselesaikan.
“Sejak 1965, kami tidak dibayar. Banyak hotel yang dipakai tentara juga mengalami hal yang sama,” ujarnya.
Piutang itulah yang menyeret keluarga ke dalam keterpurukan ekonomi berkepanjangan. Rasa penasaran mendorong Thea menghitung nilai piutang tersebut dengan bantuan kecerdasan buatan.
“AI menyebut angkanya sekitar Rp2,5 miliar kalau dikonversi ke sekarang. Saya kaget,” tuturnya.
