Serangan AS Picu Krisis Kemanusiaan di Venezuela, Warga Kehilangan Rumah dan Keluarga

Serangan AS Picu Krisis Kemanusiaan di Venezuela, Warga Kehilangan Rumah dan Keluarga
Konvoi yang membawa kendaraan lapis baja terlihat melintasi wilayah Manhattan seiring diperketatnya pengamanan pascapenangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro di New York City pada 3 Januari 2026. (SUMBER FOTO: Anadolu)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Serangan yang dilancarkan Amerika Serikat menyebabkan sejumlah warga Venezuela kehilangan tempat tinggal sekaligus kesulitan membiayai pemakaman anggota keluarga mereka. Para korban menyampaikan kondisi tersebut kepada kantor berita RIA Novosti.

Dalam laporan yang diterbitkan Senin, RIA Novosti mengungkapkan kisah sebuah keluarga di wilayah pinggiran Caracas yang kini kehilangan rumah serta mata pencaharian akibat serangan udara AS.

Sebagian rumah mereka di negara bagian pesisir La Guaira, di utara Caracas, rusak parah, sementara seorang perempuan berusia 80 tahun dilaporkan tewas dalam peristiwa tersebut.

Baca Juga:Penganiaya Korban Hingga Tewas di RSUD Majalaya Menyerahkan Diri, Polisi Dalami MotifnyaDugaan Penganiayaan Maut Terjadi di RSUD Majalaya, Polisi Lakukan Penyelidikan

“Kami tidak punya tempat tinggal. Kami perlu memakamkan bibi saya, tetapi kami juga tidak punya uang untuk itu, kami adalah keluarga miskin,” ujar seorang pria berusia 62 tahun.

Warga lain dari Catia La Mar, sebuah kota dekat Caracas, mengatakan bahwa tetangganya yang sudah lanjut usia meninggal dunia akibat terkena serpihan roket.

Serangan tersebut juga menghancurkan sebuah gedung apartemen yang dihuni oleh 17 keluarga. Menurutnya, banyak warga masih mengalami trauma akibat serangan itu.

Pada 3 Januari, Amerika Serikat melancarkan operasi militer besar terhadap Venezuela dan menahan Presiden Nicolas Maduro beserta istrinya, Cilia Flores, lalu membawa keduanya ke New York.

Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Maduro dan Flores akan diadili atas tuduhan keterlibatan dalam aksi narko-terorisme dan dianggap sebagai ancaman, termasuk bagi Amerika Serikat.

Menanggapi operasi tersebut, pemerintah Venezuela meminta digelarnya pertemuan darurat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Mahkamah Agung Venezuela kemudian menunjuk Wakil Presiden Delcy Rodríguez sebagai presiden sementara.

Kementerian Luar Negeri Rusia menyampaikan dukungannya kepada rakyat Venezuela dan mendesak pembebasan Maduro serta istrinya, sekaligus menyerukan agar tidak terjadi eskalasi lanjutan. Sikap serupa disampaikan China yang menuntut pembebasan segera pasangan Maduro dan menegaskan bahwa tindakan Amerika Serikat bertentangan dengan hukum internasional.*

0 Komentar