JABAR EKSPRES – Sedikitnya lima orang dilaporkan meninggal dunia dan sejumlah lainnya mengalami luka-luka dalam rangkaian aksi protes yang berlangsung di wilayah barat serta barat daya Iran pada Kamis (1/1), menurut laporan media setempat.
Kantor berita semi-resmi Fars mengutip keterangan seorang pejabat lokal yang tidak diungkap identitasnya, menyebutkan bahwa lebih dari 150 orang berkumpul di wilayah Lordegan, Provinsi Chaharmahal dan Bakhtiari. Dalam aksi tersebut, massa meneriakkan slogan-slogan bernada penentangan terhadap pemerintah dan melempari sejumlah bangunan publik dengan batu.
Pejabat tersebut menjelaskan bahwa situasi memanas setelah aparat kepolisian turun tangan untuk membubarkan massa. Sebagian pengunjuk rasa dilaporkan melepaskan tembakan ke arah aparat keamanan, yang mengakibatkan beberapa petugas terluka. Dalam bentrokan itu, dua orang dilaporkan tewas.
Baca Juga:Harga Emas Hari Ini Naik Tipis, Antam dan Emas Dunia Tunjukkan Tren PositifZelenskyy Harapkan Dukungan Internasional untuk Perkuat Militer Ukraina
“Setelah polisi turun tangan, sebagian pengunjuk rasa melepaskan tembakan ke arah aparat keamanan hingga melukai sejumlah petugas, sementara dua orang tewas dalam bentrokan tersebut,” ujarnya.
Selain itu, Fars juga melaporkan insiden terpisah di Provinsi Lorestan, di mana tiga orang tewas dan 17 lainnya mengalami luka-luka setelah sekelompok perusuh menyerang markas kepolisian. Peristiwa tersebut terjadi dengan memanfaatkan aksi protes publik di Kota Azna. Para pelaku disebut menggunakan senjata tajam dan senjata api dalam upaya melucuti aparat keamanan serta menyerbu gudang senjata, sehingga memicu bentrokan sengit.
Gelombang kekerasan ini terjadi tidak lama setelah media lokal memberitakan penangkapan 20 orang dalam insiden di Kota Kuhdasht, Provinsi Lorestan, pada Rabu sebelumnya. Dalam kejadian tersebut, seorang anggota pasukan Basij yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dilaporkan tewas.
Aksi protes di berbagai wilayah Iran dipicu oleh meningkatnya tekanan ekonomi. Pada 28 Desember, para pedagang di Grand Bazaar
Teheran menggelar unjuk rasa menyusul merosotnya nilai tukar mata uang nasional, rial Iran, terhadap mata uang asing. Protes tersebut kemudian menyebar ke sejumlah kota lain di seluruh negeri.
Menanggapi situasi ini, Juru Bicara Pemerintah Iran Fatemeh Mohajerani menyatakan bahwa pemerintah menyadari adanya gelombang protes dan berbagai krisis yang dihadapi masyarakat.
