JABAR EKSPRES – Amerika Serikat pada Kamis (1/1) menyerukan kepada China agar menahan diri dan menghentikan tekanan militer terhadap Taiwan, menyusul digelarnya latihan militer terbaru Beijing di sekitar pulau tersebut. Washington juga meminta China untuk membuka ruang dialog yang lebih konstruktif demi meredakan ketegangan kawasan.
Wakil Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS, Tommy Pigott, menilai bahwa aktivitas militer serta pernyataan keras China terhadap Taiwan dan negara lain di kawasan justru memicu peningkatan tensi yang tidak diperlukan. Menurutnya, langkah-langkah tersebut berpotensi mengganggu stabilitas regional.
Pigott menegaskan bahwa AS mendorong Beijing untuk mengendalikan diri, menghentikan tekanan militer terhadap Taiwan, dan memilih jalur dialog yang bermakna sebagai solusi. Dalam pernyataan resminya, ia juga menekankan komitmen Washington terhadap perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan, serta penolakan terhadap segala bentuk perubahan sepihak atas status quo, termasuk melalui penggunaan kekuatan atau tindakan koersif.
Baca Juga:Kode Redeem Genshin Impact versi Luna 4 Terbaru! Karakter Baru Columbina dan Zibai HadirKerusuhan Saat Aksi Protes di Iran, Lima Orang Dilaporkan Tewas
Seruan ini muncul di tengah berlangsungnya latihan militer gabungan China yang dinamai Justice Mission 2025, yang dimulai pada Senin. Latihan tersebut digelar hanya beberapa hari setelah Amerika Serikat menyetujui paket penjualan senjata kepada Taiwan dengan nilai lebih dari 11 miliar dolar AS, yang disebut sebagai kesepakatan penjualan senjata terbesar sepanjang sejarah antara kedua pihak.
Menanggapi situasi tersebut, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, pada Selasa (30/12/2025) menyatakan bahwa latihan militer tersebut merupakan bentuk “hukuman dan pencegahan” terhadap apa yang disebut Beijing sebagai kekuatan separatis Taiwan. Ia menegaskan bahwa latihan itu dimaksudkan untuk menghalau upaya kemerdekaan Taiwan yang didukung melalui penguatan militer.
Sementara itu, pemimpin Taiwan William Lai Ching-te menyampaikan bahwa China terus meningkatkan tekanan militer di kawasan. Ia menilai tindakan tersebut tidak mencerminkan sikap sebuah kekuatan global yang bertanggung jawab, sebagaimana dilaporkan media setempat, Focus Taiwan. Lai menegaskan bahwa Taiwan tidak berniat memprovokasi konfrontasi maupun mencari konflik dengan China.
China selama ini menganggap Taiwan sebagai provinsi yang memisahkan diri. Namun, Taipei tetap bersikeras mempertahankan sikap kedaulatannya sejak berakhirnya perang saudara China pada 1949, yang hingga kini menjadi sumber utama ketegangan di Selat Taiwan.*
