JABAR EKSPRES – Hujan deras yang mengguyur Kota Cimahi pada Minggu (28/12/2025) sejak pukul 15.00 WIB hingga 17.25 WIB kembali memicu genangan hingga banjir di sejumlah wilayah. Meski hujan sempat mereda, air terlanjur meluap dan mengganggu aktivitas warga.
Wilayah Cimindi, Kecamatan Cimahi Selatan, terutama di sekitar Pasar Tradisional Cimindi, kembali menjadi titik langganan banjir akibat hujan dengan durasi panjang.
Sekretaris Lembaga Kajian Strategis dan Lingkar Studi (KATALIS) Cimahi, Virlana Rahmansyah Ritonga, menilai banjir di Cimindi bukan lagi persoalan musiman, melainkan masalah struktural yang membutuhkan penanganan serius dari pemerintah.
Baca Juga:20 Delegasi Internasional Hadir di Bandung, JCI Dorong Kolaborasi Bisnis BerkelanjutanGelar CSR di Cimanggung, PT MBK Ventura Ajak Kelola Keuangan dan Peduli Lingkungan
“Setiap hujan besar, Cimindi selalu kebanjiran. Kondisinya seperti ‘waduk dadakan’. Ini sudah berulang dan tidak bisa dibiarkan,” ujar Virlana kepada Jabar Ekspres, Senin (29/12/2025).
Ia menjelaskan, secara geografis Cimindi berada di kawasan cekungan yang menjadi titik kumpul aliran air dari wilayah yang lebih tinggi. Sementara itu, kapasitas drainase dan gorong-gorong dinilai tidak mampu menampung debit air yang datang secara bersamaan.
“Cimindi menerima kiriman air dari daerah atas, tetapi saluran airnya tidak kuat menampung. Akibatnya, air meluap ke jalan dan permukiman,” katanya.
Menurut Virlana, sampah memang berkontribusi terhadap banjir karena menyumbat aliran air. Namun, ia menegaskan penyempitan Daerah Aliran Sungai (DAS) akibat bangunan di bantaran sungai jauh lebih berbahaya karena bersifat permanen.
“Sampah masih bisa dibersihkan, tapi penyempitan sungai karena bangunan itu masalah besar. Dampaknya jangka panjang dan sulit diselesaikan,” tegasnya.
Ia menambahkan, pengerukan sungai di titik lain tidak akan efektif jika masih terdapat penyempitan di wilayah Cimindi akibat pondasi bangunan.
“Sedalam apa pun sungai dikeruk, selama ada penyempitan di Cimindi, air tetap akan meluap,” ujarnya.
Baca Juga:Cegah Radikalisme Melalui Pendekatan Kewirausahaan, Densus 88 Gelar Pelatihan Barista bagi Eks Napiter di JawaKemiskinan Ekstrem di Jabar: Data BPS Belum Update!
Virlana juga menilai penanganan banjir tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada Pemkot Cimahi. Pasalnya, Cimindi berada di wilayah perlintasan aliran air dari daerah sekitar. Ia mendorong adanya koordinasi lintas pemerintahan.
“Perlu sinkronisasi kebijakan antara Pemkot Cimahi, Pemkot Bandung, dan Pemprov Jawa Barat. Jangan sampai satu wilayah membenahi sungai, sementara wilayah lain membiarkan penyempitan,” katanya.
