JABAR EKSPRES – Sejumlah santri Pondok Pesantren Nurrush Sholaah di Dusun Bangkir, Desa Sindanggalih, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, yang menjadi korban dugaan keracunan makanan, masih menjalani perawatan di rumah sakit.
Sebelumnya, sebanyak 58 santri dilarikan ke lima rumah sakit berbeda untuk mendapatkan penanganan medis. Hingga kini, kondisi para santri terus dipantau dan mendapat perawatan intensif dari tenaga kesehatan.
Dari total 58 santri yang dibawa ke Instalasi Gawat Darurat (IGD), sebagian besar dirujuk ke Rumah Sakit Kesehatan Kerja (RSKK) Provinsi Jawa Barat yang berlokasi di Desa Nanjungmekar, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung. Selain itu, sejumlah santri juga dirawat di RS AMC Cileunyi serta RS Unpad Jatinangor.
Baca Juga:Tersirat! Federico Barba Memang Tinggalkan Persib, Begini Katanya!Federico Barba Not For Sale: 'Ambil Julio Aja, Dibonusan Febri'
Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir, sempat menjenguk para santri yang dirawat akibat keracunan makanan di RS Unpad Jatinangor, Senin (23/12/2025).
Dony menegaskan bahwa seluruh biaya perawatan medis para santri korban dugaan keracunan akan ditanggung oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Sumedang dengan dukungan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
“Saya menyampaikan doa serta dukungan moril kepada para santri agar segera pulih. Saya juga memastikan langsung kondisi pasien dengan berkoordinasi bersama pihak rumah sakit dan keluarga santri,” katanya saat ditemui Jabar Ekspres.
Ia mengungkapkan, sebagian besar santri yang sempat dirawat kini telah diperbolehkan pulang. Meski demikian, masih ada beberapa santri yang harus menjalani perawatan lanjutan untuk pemantauan kondisi kesehatan.
“Alhamdulillah, sebagian besar santri sudah kembali ke pesantren. Beberapa lainnya masih dirawat untuk memastikan kondisinya benar-benar stabil,” ungkapnya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Jabar Ekspres, para santri mulai merasakan keluhan sakit setelah mengonsumsi makanan dari donatur dalam acara peringatan Hari Bahasa Arab Sedunia di Pondok Pesantren Nurrush Sholaah pada Kamis (18/12/2025) malam.
Keluhan tersebut muncul secara serentak pada keesokan harinya, Jumat (19/12/2025), sekitar pukul 05.00 WIB.
Baca Juga:Eliano Reijnders Jadi Kunci Fleksibilitas Persib, Bisa Main di Hampir Semua PosisiKesabaran Berbuah Gol, Ramon Tanque Menjelma Jadi Bomber Mematikan
Total santri yang mengalami gejala dugaan keracunan makanan tercatat sebanyak 116 orang, dengan 58 di antaranya harus mendapatkan perawatan medis di IGD lima rumah sakit berbeda.
Dari informasi yang diterima, pihak pesantren sempat dimintai uang masuk atau deposit oleh salah satu rumah sakit swasta sebesar Rp2.649.500 sebagai syarat kelanjutan pengobatan santri.
