Dedi Mulyadi Ingin Hidupkan Pohon Abadi: Biaya Reboisasi Lebih Mahal!

Dedi Mulyadi Ingin Hidupkan Pohon Abadi: Biaya Reboisasi Lebih Mahal!
Gubernur Jabar Dedi Mulyadi dan Menteri ATR BPN Nusron Wahid saat di Gedung Sate, Kamis (18/12). (Foto: son/Jabar Ekspres)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Gubernur Jabar Dedi Mulyadi ingin menghidupkan pohon abadi sebagai bagian dari langkah untuk menjaga kelestarian hutan di Jawa Barat.

Ia menegaskan bahwa pihak ingin mengembalikan hutan sebagai mana fungsinya. “Kami fungsikan hutan sebagai fungsi hutan bukan manusia,” katanya di Gedung Sate, Kota Bandung, Kamis (18/12/2025).

Karena itu, pihaknya ingin menjadikan pohon-pohon yang kini ditanam di lahan Perhutani atau lahan produksi lainya untuk dijadikan pohon abadi. Pohon yang terus dibiarkan tumbuh tidak untuk ditebang di kemudian hari.

Baca Juga:Alih Fungsi Lahan Sawah di Jabar Capai  2.585,77 Hektare, Dedi Mulyadi Bakal Rubah Perda RTRWDedi Mulyadi Luapkan Kekecewaan ke PTPN, Soroti Alih Fungsi Lahan

Bahkan, kata Dedi Mulyadi, pihaknya siap membayar untuk pohon-pohon tersebut. “Pemprov bersedia hitung dan bayar pohon tersebut, agar nanti tidak ditebang,” katanya.

Menurutnya, biaya reboisasi lebih mahal dibandingkan dengan langkah membeli pohon abadi itu. “Mulai tahun anggaran 2026 kami siapkan anggaran,” katanya.

Mantan Bupati Purwakarta itu menegaskan, secara hati pihaknya ingin tidak perlu lagi hutan produksi di Jawa Barat. “Sudah lah hutan di Jabar juga tinggal paling 700 ribu hektar. Itupun di peta, belum tentu ada pohonnya,” cetusnya.

Sementara itu, Dirjen Planologi Kehutanan Kementerian Kehutanan mencatat bahwa luas kawasan hutan di Indonesia ada di angka 120.445.794 hektare. Sementara di Jawa Barat kini hanya 22,54 persen dari luasan provinsi.

Fungsi hutan perlu dijaga. Karena juga sebagai daerah resapan air. Kelestarian hutan juga untuk mencegah terjadinya bencana seperti longsor dan banjir.

Berikut kondisi persentase hutan di Kota Kabupaten di Jawa Barat:

– Tasikmalaya 18 persen- Sumedang 30 persen- Sukabumi 27 persen- Subang 13 persen- Purwakarta 22 persen- Pangandaran 15 persen- Majalengka 20 persen- Kuningan 28 persen- Kota Tasikmalaya 2 persen- Karawang 12 persen- Kota Banjar 8 persen- Karawang 12 persen- Indramayu 19 persen- Garut 33 persen- Cirebon 5 persen- Cianjur 27 persen- Ciamis 11 persen- Bogor 26 persen- Bekasi 8 persen- Bandung Barat 26 persen- Bandung 29 persen

(son)

0 Komentar