Ketimpangan Ekonomi Pendidikan Menganga, Pemuda Bandung Bersuara  

ekonomi pendidikan
Komunitas Action For Life bersama Himpunan Mahasiswa Pendidikan Ekonomi UPI saat menggelar diskusi terbuka Action Talk Vol. 3 bertajuk “Ekonomi Pendidikan: Membaca Ulang Arah dan Masa Depan Pendidikan Indonesia” di Mocondoo Mocktail, Bandung, Rabu (10/12) malam. 
0 Komentar

BANDUNG – Komunitas Action For Life bersama Himpunan Mahasiswa Pendidikan Ekonomi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menggelar diskusi terbuka Action Talk Vol. 3 bertajuk “Ekonomi Pendidikan: Membaca Ulang Arah dan Masa Depan Pendidikan Indonesia” di Mocondoo Mocktail, Bandung, Rabu (10/12) malam.

Acara yang dihadiri puluhan mahasiswa dan aktivis muda ini menghadirkan dua narasumber utama: Ariska Azzahara (Ketua Himpunan Mahasiswa Pendidikan Ekonomi UPI 2025) dan M. Fadhilah Habibuddin (Ketua Komunitas Action For Life).

Pendidikan Seperti Menanam Pohon: Bibit Bagus di Tanah Gersang Tetap Layu

Dengan tegas, Ariska Azzahara menyatakan bahwa ketimpangan pendidikan di Indonesia saat ini sudah pada tahap krisis sistemik. Ia menganalogikan pendidikan layaknya menanam pohon. Pemerintah menyediakan lahan, sekolah dan guru menjadi tukang kebun, orang tua memberikan pupuk tambahan, sementara siswa adalah bibit yang tumbuh di tengah lingkungan sosial-ekonomi masyarakat.

Baca Juga:Upah Minimum 2026 Masih Gelap, Buruh Jabar Minta Pemerintah Jangan Cuci Tangan!RISEfest 2025 Muda Juara: Lahirkan Pengusaha Muda Muslim Penggerak Ekonomi Umat  

“Kalau bibit bagus tapi ditanam di lahan tandus, tanpa air dan pupuk yang cukup, pohonnya tetap kerdil atau mati. Itulah yang terjadi pada jutaan anak miskin Indonesia saat ini,” tegas Ariska.

Dia menyoroti tiga pilar ekonomi pendidikan. Efektivitas, efisiensi, dan equity (keadilan) yang hingga kini masih timpang. Kesenjangan kompetensi siswa, kualitas guru, infrastruktur sekolah, hingga distribusi anggaran menjadi bukti nyata bahwa sistem pendidikan nasional masih mereproduksi kemiskinan lintas generasi.

40 Persen Anggaran Pendidikan Mengalir ke MBG, Kualitas Guru dan Fasilitas Terabaikan

M. Fadhilah Habibuddin dalam pemaparannya lebih keras lagi. Ia membeberkan fakta bahwa sekitar 40 persen dari anggaran pendidikan nasional yang wajib 20 persen APBN/APBD saat ini dialokasikan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Saya tidak anti-MBG, tapi kalau 40 persen anggaran habis di situ sementara gaji dan pelatihan guru masih memprihatinkan, fasilitas sekolah di daerah 3T hancur, dan akses internet nol, lalu kita mau bicara apa soal pemerataan kualitas?” tanya Fadhil.

Menurutnya, investasi pendidikan jangka panjang yang benar adalah peningkatan kompetensi guru, perbaikan infrastruktur sekolah, dan beasiswa bagi anak-anak dari keluarga pra-sejahtera, bukan program populis jangka pendek.

0 Komentar