Para peserta, baik siswa maupun guru, diajak untuk benar-benar merasakan dan berefleksi dari pengalaman tersebut, sebelum kemudian diarahkan ke tahap Konsep.
“Nah, di konsep itu nanti mereka belajar memahami tentang lebih lanjut tentang bully itu atau tentang nilai-nilai perdamaian yang diajarkan dan disangkutkan dengan fakta-fakta yang ada, data-data yang ada,” ungkapnya.
Setelah memahami konsep, kata Intan, barulah mereka diajak mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
Baca Juga:Semarak Hari Guru Nasional di SMKN 3 Cimahi Dorong Guru Menjadi Inspiratif dan KreatifGuru DKV SMKN 3 Cimahi Ciptakan 'Simanis', Teknologi yang Menyatukan Data dan Mengubah Budaya Sekolah
Perjalanan Intan sebagai trainer tidak terbatas di Jawa Barat saja. Bersama timnya, Intan pernah berkeliling ke tujuh kota, termasuk Depok, Malang, Medan, Makassar, dan Goa, dalam kerjasama dengan Dirjen Vokasi dan Ikatan Pelajar Muhammadiyah, untuk menyebarkan materi antikekerasan kepada 50 guru dan 50 siswa di setiap kota.
Namun, mengarungi keragaman Indonesia tentu memiliki tantangan tersendiri.
“Tantangannya tentunya pasti ada kan. Jadi ketika di setiap kota itu kan punya karakteristik yang berbeda ya. Baik itu guru maupun siswa,” terangnya.
Intan dan tim selalu berupaya mengenali dulu karakteristik daerah dan budaya setempat sebelum melakukan pelatihan.
Ia mencontohkan pengalamannya di Medan, di mana karakteristik siswa lebih impulsif.
“Jadi pendekatannya mungkin ya karena kelihatannya kan kalau orang dari Sumatera itu kan lebih keras gitu ya. Nah itu ternyata ya situasi karakteristik siswanya pun sama,” paparnya.
Pengalaman ini mengajarkan bahwa materi yang disampaikan harus butuh penyesuaian.
“Jadi ternyata si materi yang kami sampaikan itu butuh penyesuaian. Jadi setiap daerah tuh nggak semua bisa menggunakan (materi yang disampaikan) langsung plug gitu ya,” imbuhnya.
Selain bullying, Intan menjelaskan bahwa modul Peace Generation juga mencakup materi lain yang krusial bagi pengembangan diri siswa, seperti manajemen konflik dan self-love.
Baca Juga:Uji Ketajaman Akademik dan Kejujuran, SMKN 3 Cimahi Gelar TKA di Tengah PKLKekerasan Seksual Libatkan Guru Honorer, Tindakan Cepat Diambil SMKN 3 Cimahi!
“Jadi mereka diajak untuk lebih mengenal dirinya, mencintai dirinya gitu ya. Terus menjauhi prasangka. Yang tadi mungkin akan lihat tadi ada modulnya 12 nilai dasar perdamaian,” jelasnya.
NGO yang didirikan oleh Irvan Amali (Indonesia) dan Eric Lincoln (Amerika) ini berkantor pusat di Bandung. Meskipun Intan dan 60-70 trainer lainnya bersifat part-time, kontribusi mereka dalam menciptakan sekolah damai sangatlah besar.
