“Harusnya di lokasi keramaian atau di titik lokasi yang mudah diakses dan dijangkau masyarakat umum. Sedangkan saat ini lokasinya ada di dalam perkantoran pemerintah, yang notabene masyarakat yang tidak memiliki kepentingan ke perkantoran pemerintah akan enggan mengakses lokasi galeri itu karena masuk di kawasan perkantoran dinas,” paparnya.
Ia mengusulkan agar potensi besar penggiat seni dan UMKM Banjar dimanfaatkan dengan menjadikan lokasi tersebut sebagai pusat keramaian baru, bukan sekadar gedung yang terisolir. Inti dari semua kritiknya adalah pertanggungjawaban atas penggunaan uang rakyat.
“Intinya jangan disia-siakan, karena itu dibangun dari anggaran pajak rakyat,” katanya menegaskan.
Baca Juga:Hari Guru 2025, Akademisi Psikologi: Dedikasi Guru Adalah Pondasi Kemajuan BangsaSambut Tahun Baru 2026, Ibis Bandung Pasteur Hadirkan Paket Keluarga Bertema Midnight at The Sea
Dampak belum beroperasinya selama hampir satu tahun pasca pembangunan selesai sudah mulai terlihat secara fisik. Pantauan di lokasi, cat tembok gedung yang masih baru sudah menunjukkan tanda-tanda memudar, terutama pada bagian yang terpapar langsung terik matahari dan air hujan.
Kondisi ini sangat disayangkan mengingat para pelaku UMKM di Kota Banjar sempat memiliki harapan baru untuk memajang dan memasarkan produk unggulan mereka, mulai dari olahan pangan, kerajinan tangan, hingga produk fashion. Rencana untuk memamerkan produk-produk ini kepada tamu dari luar daerah juga masih menjadi wacana yang tertunda. (CEP)
