“Kertajati boleh dikembangkan, tapi Husein jangan ditutup. Kalau dipaksakan, penumpang justru ke Soekarno–Hatta lagi,” ujarnya.
Menurut Asep, kunci penguatan Kertajati bukan paksaan kebijakan, melainkan peningkatan daya tarik dan kenyamanan penumpang. “Kalau tidak minat, walaupun dikucuri dana besar, orang tetap memilih ke Jakarta,” tandasnya.
Kondisi sepi BIJB Kertajati dinilai warga sebagai proyek besar yang belum memberi manfaat nyata. Seorang warga Bandung, Septi (25), menyebut bandara itu seperti proyek ambisius.
Baca Juga:BIJB Kertajati Hanya Dapat Kucuran Rp100 Miliar, Ini Kata Legislator!Ono Surono Sebut Suntikan Modal ke BIJB Kertajati Diperlukan Agar Tak Jadi Bangkai
“Bandara ini dibangun megah, landasan besar, terminal besar, tapi pesawatnya jarang yang lewat. Udah kaya bandara hantu dan gak ngasih dampak besar buat sehari-hari,” kata Septi saat ditemui Jabar Ekspres, Sabtu.
Dia menyebut rute penerbangan yang minim membuat keberadaan bandara itu tak terasa signifikan bagi pertumbuhan ekonomi lokal.
Menurut dia, peluang kerja memang sempat muncul dari usaha kuliner, hotel, toko, atau sewa mobil. “Tapi ya gitu, gak sesuai sama imajinasi waktu lagi perencanaan aerocity,” ujarnya.
Septi menyoroti akses darat yang belum memadai dan transportasi umum yang tak jelas. “Warlok gak gitu merasakan dampak dan manfaat bandara hantu itu, padahal dia kan dibangun pake uang yang gak sedikit,” katanya.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan mengucurkan dana ratusan miliar dari APBD untuk mendukung operasional BIJB. Septi menganggap langkah itu masih perlu dipertanyakan efektivitasnya.
“Itu juga uang kita, uang pajak rakyat Jabar. Kalau cuma buat regulasi dan operasional gak jadi jaminan banyak pesawat mau mendarat,” ujarnya.
Dia khawatir dana itu sekadar menjaga kesan bahwa bandara masih hidup. “Bisa jadi itu uang ratusan miliar cuma ada-adaan aja, biar seakan-akan bandara tetap hidup,” cetusnya.
Baca Juga:Kucuran Modal BIJB Kertajati akan Digunakan untuk Subsidi PenerbanganKatanya Efisiensi tapi BIJB Kertajati Mau Disuntik Rp 100 Miliar, KDM : agar Tak Jadi Tempat Kelelawar
Meski begitu, dirinya menilai sebagian dana bisa diarahkan untuk membangun transportasi umum yang terintegrasi dan terjangkau. Septi berharap kondisi bandara itu membaik pada 2026.
“Lebih banyak rute penerbangan, penerbangan reguler yang jelas, domestik dan kalau memungkinkan internasional,” ujarnya.
Dia mencontohkan rute Kertajati-Kuala Lumpur yang sempat ada. Selain itu, dia meminta transparansi penggunaan dana agar bandara tidak sekadar menjadi proyek infrastruktur tanpa dampak.
