Kucuran Modal BIJB Kertajati jadi Temuan BPK, Pengamat Sebut Upaya Hidupkan 'Bandara Hantu' Terlalu Memaksa

Kucuran Modal BIJB Kertajati jadi Temuan BPK, Pengamat Sebut Upaya Hidupkan \'Bandara Hantu\' Terlalu Memaksa
MEGAH: Dua orang petugas saat membersihkan kawasan BIJB yang nampak sepi pengunjung. Tahun depan rencananya bandara ini akan mendapatkan suntikan modal Rp100 miliar. (FOTO: RADAR CIREBON/GRUP JABAR EKSPRES)
0 Komentar

Pengamat Kebijakan Publik Universitas Padjadjaran, Asep Sumaryana, menilai rencana kucuran dana ratusan miliar rupiah untuk Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati harus dibarengi perbaikan mendasar, terutama terkait akses dan kesiapan infrastruktur.

Dia menilai pengoperasian Kertajati selama ini terlalu dipaksakan. “Posisinya belum siap, tapi dipindahkan dan dikebut dengan sejumlah anggaran supaya cepat selesai,” kata Asep saat dihubungi Jabar Ekspres, Sabtu (15/11).

Menurut dia, pemaksaan operasional Kertajati membuat pola mobilitas penumpang justru berubah. Alih-alih beralih ke Kertajati setelah Bandara Husein Sastranegara ditutup untuk penerbangan komersial, banyak penumpang dari Bandung dan sekitarnya memilih Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta.

Baca Juga:BIJB Kertajati Hanya Dapat Kucuran Rp100 Miliar, Ini Kata Legislator!Ono Surono Sebut Suntikan Modal ke BIJB Kertajati Diperlukan Agar Tak Jadi Bangkai

Dia menyebut kebijakan pemindahan layanan penerbangan semestinya tidak dilakukan drastis. “Jangan sampai hal-hal yang sudah eksis diubah secara tiba-tiba, sehingga respons publik terhadap kebijakan itu jadi kurang baik,” ujar Asep.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat sebelumnya menyiapkan anggaran sekitar Rp150 miliar (berubah jadi Rp100 miliar) untuk pengembangan fasilitas pendukung Kertajati.

Namun Asep mengingatkan dana tersebut hanya akan efektif jika diarahkan pada kebutuhan utama bandara, seperti peningkatan aksesibilitas, akomodasi, dan layanan penunjang.

“Contohnya hotel singgah, tempat makan, fasilitas istirahat, dan akses transportasi yang benar-benar mudah. Kalau itu tidak ada, repot juga,” katanya.

Asep menilai orientasi pengembangan Kertajati dapat dimulai dari layanan penerbangan yang memang memiliki pasar kuat, seperti umrah dan haji, mengingat wilayah cakupannya mencakup Majalengka, Cirebon, dan Kuningan.

Dia menegaskan pemerintah perlu menarik minat terlebih dulu, bukan memaksa. “Jangan sampai Kertajati dibesarkan tapi ternyata tidak diminati. Peminatan itu yang harus ditarik dulu,” tegasnya.

Soal akses, Asep mengakui itu menjadi persoalan utama. Dia menilai dana ratusan miliar seharusnya bisa memperbaiki konektivitas Kertajati dari berbagai penjuru. “Buatlah akses yang bagus. Orang akan berhitung soal jarak dan kemudahan menuju bandara,” kata dia.

Baca Juga:Kucuran Modal BIJB Kertajati akan Digunakan untuk Subsidi PenerbanganKatanya Efisiensi tapi BIJB Kertajati Mau Disuntik Rp 100 Miliar, KDM : agar Tak Jadi Tempat Kelelawar

Asep juga menuturkan langkah membuka kembali Bandara Husein untuk penerbangan komersial, seperti yang terus diperjuangkan Wali Kota Bandung, patut dipertimbangkan pemerintah pusat.

0 Komentar