JABAR EKSPRES – Dampak kebijakn Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa atau disebut juga ‘Purbaya Effect’ tampaknya sudah mulai terasa di perekonomian nasional.
Kepala Ekonom The Indonesia Economic Intelligence (IEI), Sunarsip menyebut, ‘Purbaya Effect’ itu tercermin pada penyaluran kredit ke Badan Udaha Milik Negara (BUMN) yang mengalami kenaikan hingga 8,5 persen.
“Kenapa saya bilang ini Purbaya efek (Purbaya Effect) sudah bekerja? Karena sebagian besar sumber pertumbuhan kredit perbankan itu masih dari kepada debitur BUMN. Dari (pertumbuhan) 1,9 persen (Agustus 2025), menjadi 10,04 persen (September 2025),” ujarnya, dikutip Jumat (14/11/2025).
Baca Juga:Hotman Paris Protes Bunga Deposito Menurun Efek Penempatan Dana Rp200 Triliun, Menkeu: Biar Ekonomi JalanMenkeu Sebut Himbara Kelimpungan Terima Rp200 Triliun, Rosan: Kapasitas Setiap Bank Berbeda!
Selain penyaluran kredit ke BUMN yang mengalami kenaikan dalam satu bulan, penyaluran kredit ke sektor swasta juga menunjukkan peningkatan.
Meskipun peningkatannya tipis namun ia meyakini itu merupakan salah satu bentuk ‘Purbaya Effect’, yakni tumbuh 0,05 persen semula 11,07 persen pada Agustus 2025 menjadi 11,12 persen pada September 2025.
Peningkatan itu, kata dia, tak lepas dari kebijakan Menkeu Purbaya yang menempatkan dana pemerintah sebesar Rp200 triliun di bank-bank anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).
Kebijakan Menkeu pengganti Sri Mulyani itu, dilakukan guna memperkuat likuiditas perbankan sekaligus menjadi stimulus untuk mendorong pergerakan ekonomi melalui penyaluran kredit.
Adapun secara keseluruhan, pertumbuhan kredit perbankan pada September 2025 tercatat 7,7 persen (yoy), naik tipis dibandingkan dengan bulan Agustus 2025 yang sebesar 7,56 persen (yoy).
Namun begitu, Sunarsip berharap pertumbuhan kredit perbankan tak hanya terjadi di level korporat BUMn, tetapi juga menyentuk swasta.
“Karena Pak Purbaya kan selalu bilang, dia ingin mentransmisikan fiskal menjadi katalis pertumbuhan untuk swasta. Karena bagaimanapun jika kita butuh swasta. Karena kredit terbesar kan dari swasta, bukan dari BUMN,” paparnya.
Baca Juga:Menkeu Tarik Rp200 Triliun dari BI untuk Suntikan Dana Himbara, Solusi Percepat Perputaran Ekonomi?Kemenkeu Klaim Suntikan Dana Rp200 Triliun ke Bank Mirip Skema Kopdes Merah Putih, Benarkah?
Dirinya menilai, tanpa ‘Purbaya Effect’, kecil kemungkinan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,04 persen pada kuartal III 2025.
“Bayangkan, dari 1,9 persen tumbuh menjadi 10,04 persen. Mungkin kalau tanpa ini enggak bisa kita (ekonomi tumbuh) 5,04 persen,” ujar Sunarsip.
Lebih lanjut, ia menilai pertumbuhan ekonomi saat ini masih cukup baik, namun belum didukung oleh perbaikan konsumsi masyarakat.
Maka dari itu, Sunarsip menyarankan agar pemerintah mengubah pendekatan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Jika sebelumnya fokus pada peningkatan permintaan (demand), kini perlu diarahkan pada penguatan suplai (supply) sektoral.
